BANDA ACEH — Dua nama besar dari dua benua, Cut Nyak Dhien dari Aceh dan Kahlil Gibran dari Lebanon, menyimpan benang merah yang jarang disadari: keduanya memaknai cinta sebagai kekuatan pembebasan. Cut Nyak Dhien membuktikannya lewat perlawanan bersenjata di rimba Aceh, sementara Gibran mengabadikannya dalam goresan tinta di atas kertas.
Kisah ini diangkat oleh Azril Ihksan, anggota SPS Revival, dalam sebuah refleksi budaya yang dipublikasikan SAGOE TV. Ia membandingkan perjalanan hidup dua tokoh yang lahir di penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19, dari tanah yang sama-sama kaya akan simbol alam: Lampadang dengan pohon Geulumpang-nya dan Bsharri dengan pohon cedar-nya.
Kahlil Gibran memulai kariernya di Lebanon, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani. Getaran perjuangan kemerdekaan di tanah kelahirannya ikut membentuk cara pandangnya tentang cinta dan kebebasan. Ikatan batinnya dengan Lebanon, ibunya, dan kekasihnya menjadi sumber kata-kata magis dalam karya-karyanya.
Di sisi lain, Cut Nyak Dhien memulai perjalanannya dari Tanoh Atjeh. Ia menyaksikan suami pertamanya, Ibrahim Lamnga, gugur di medan laga melawan penjajah. Setelah Teuku Umar wafat, Cut Nyak mengambil alih komando perang gerilya. Dari medan pertempuran itulah ia mendapatkan wawasan mendalam tentang arti kasih sayang.
Pada periode 1901-1905, Cut Nyak Dhien menerjang hutan rimba Aceh dengan semangat Harimau Sumatera. Ia memimpin pasukannya bergerak dari wilayah I, II, hingga III, menghadapi pertempuran demi pertempuran dengan sabar dan tabah. Namun di tengah keganasan perang, ia mewariskan pesan cinta melalui tradisi lisan masyarakat Aceh.
"Ingatlah, senjata terkuat adalah kasih sayang," demikian pesan yang diwariskan Cut Nyak Dhien, sebuah filosofi yang kontras dengan situasi perang yang ia hadapi saat itu.
Gibran menuangkan makna cinta melalui karya-karyanya yang penuh sihir untuk jiwa. Dalam buku monumentalnya, The Prophet (1923), ia menulis: "Cinta apa-apa selain dirinya sendiri dan tidak mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri." Baginya, kendi-kendi cahaya itu adalah karya-karyanya, dengan sampul sebagai tutup kendi dan gaya retoris sebagai cangkangnya.
Cut Nyak Dhien menghikmahkan cinta dengan cara berbeda. Medan hutan rimba yang penuh ketakutan dan ketidakpastian menjadi kanvasnya. Jika Gibran menggunakan akal, hati, dan tulisan berkharisma, maka Cut Nyak menggunakan perlawanan fisik sebagai ekspresi cinta tertingginya pada tanah air.
Azril Ihksan menilai keduanya adalah garis biru dan merah yang ditakdirkan Tuhan pada zaman yang sama, namun di tempat berbeda. Aceh yang pernah berdaulat dengan Qanun Meukata Alam, dan Lebanon yang merindukan pembebasan dari Kesultanan Utsmaniyah, sama-sama melahirkan figur yang menjadikan cinta sebagai fondasi perjuangan.
Antara Cut Nyak Dhien dan Kahlil Gibran, cinta pada akhirnya didefinisikan sebagai kebebasan sejati. Perbedaannya, satu menulis dengan tinta di atas kertas, yang lain menulis dengan darah di medan laga.