ACEH - Setiap tarian tradisional Aceh punya jejak sejarah yang berbeda, ada yang lahir dari strategi dakwah ulama di masa lalu, ada pula yang tumbuh dari kebiasaan hidup masyarakat pesisir dan pegunungan. Menelusuri asal-usulnya membantu memahami kenapa Aceh punya kekayaan seni tari yang begitu beragam.
Berikut penelusuran sejarah singkat sepuluh tarian yang paling dikenal, disusun berdasarkan konteks kemunculannya di masyarakat Aceh dari masa ke masa.
Tari Saman diyakini diciptakan oleh Syekh Saman, seorang ulama dari dataran tinggi Gayo, sebagai media dakwah yang dikemas dalam bentuk seni agar lebih mudah diterima masyarakat. Seiring waktu, tarian ini berkembang dari sekadar media dakwah jadi identitas budaya yang diakui dunia.
Tari Seudati punya jejak sejarah serupa. Namanya diyakini berasal dari kata "syahadatain", menunjukkan akar kemunculannya yang erat dengan penyebaran ajaran Islam di pesisir Aceh pada masa lampau.
Tari Tarek Pukat tumbuh dari kebiasaan masyarakat nelayan Aceh yang setiap hari menarik jaring dari laut. Gerakan tarian ini merupakan stilisasi dari aktivitas kerja nyata yang kemudian diangkat jadi pertunjukan seni turun-temurun.
Tari Likok Pulo yang berasal dari Pulau Aceh punya sejarah yang berkaitan dengan tradisi syukuran nelayan pulau atas hasil tangkapan laut, biasa dipentaskan saat malam bulan purnama sebagai bagian dari ritual komunitas.
Kedua tarian ini berkembang di lingkungan pesantren dan komunitas keagamaan Aceh, dengan syair yang berisi puji-pujian kepada Allah dan Rasul. Sejarahnya erat kaitannya dengan tradisi pengajian dan perayaan hari besar Islam di kampung-kampung Aceh sejak lama.
Berbeda dari kebanyakan tarian Aceh yang berakar dari dakwah, Tari Guel dari dataran tinggi Gayo justru lahir dari legenda rakyat tentang seekor gajah. Sejarah lisan ini diwariskan turun-temurun dan menjadikan Guel sebagai tarian wajib dalam upacara adat penting seperti pernikahan Gayo.
Rapai Geleng berkembang seiring masuknya alat musik rebana rapai ke Aceh, dipadukan dengan gerakan menggeleng yang khas. Tari Didong dari Gayo punya sejarah sebagai tradisi berbalas pantun yang awalnya jadi ajang silaturahmi antar kampung, sebelum berkembang jadi pertunjukan seni yang lebih terstruktur.
Tari Bines sendiri berkembang sebagai tarian penyambutan tamu kehormatan, mencerminkan nilai keramahan yang jadi bagian dari adat istiadat masyarakat Aceh sejak dulu.
Meski lahir dari konteks sejarah yang berbeda-beda, kesepuluh tarian ini bertahan karena terus diwariskan lewat sanggar seni, muatan lokal sekolah, dan pertunjukan di berbagai perayaan adat maupun keagamaan di Aceh hingga sekarang.