Dolar AS Stabil Jelang Rilis Inflasi Juli, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Turun ke 50%

Penulis: Saiful  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:26:01 WIB
Dolar AS diperdagangkan stabil di pasar global menjelang rilis data inflasi Juli yang menjadi penentu arah suku bunga The Fed.

ACEH — Bank Negara Vietnam (SBV) menetapkan kurs tengah dong Vietnam di level 25.516 VND pada Senin pagi (12/8). Sementara itu, di pasar domestik Indonesia, kurs referensi yang dikeluarkan bank sentral menunjukkan rentang transaksi USD di level Rp 24.291 hingga Rp 26.741. Adapun bank-bank komersial seperti Vietcombank dan Vietinbank memasang harga beli dolar AS di kisaran Rp 25.755–Rp 25.910 dan harga jual di level Rp 26.295–Rp 26.320.

Inflasi AS Jadi Penentu Arah Suku Bunga The Fed

Pergerakan dolar AS di pasar global cenderung flat pada perdagangan Selasa (13/8) waktu setempat. Pelaku pasar memilih wait and see menjelang rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Juli yang dijadwalkan keluar pekan ini. Angka inflasi ini menjadi penentu utama apakah The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau mulai melonggarkan kebijakannya.

Laporan non-farm payrolls yang dirilis Jumat lalu menunjukkan perusahaan-perusahaan AS secara tak terduga memangkas jumlah tenaga kerja. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa pasar tenaga kerja mulai mendingin, yang pada gilirannya menekan urgensi The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Namun, para analis memperingatkan bahwa jika inflasi Juli kembali menunjukkan akselerasi, ekspektasi pengetatan moneter bisa langsung menguat kembali. Sebaliknya, jika inflasi terus mendingin, tekanan terhadap dolar AS akan berkurang.

Yen Jepang Masih Tertekan, Intervensi Pemerintah Belum Cukup

Yen Jepang diperdagangkan stabil di level 159,28 per dolar AS. Mata uang Jepang itu sempat jatuh ke titik terendah dalam 40 tahun, mendorong Amerika Serikat dan Jepang melakukan intervensi terkoordinasi di pasar valuta asing bulan lalu demi menopang yen.

Eric Theoret, ahli strategi mata uang di Scotiabank, menilai pelemahan yen belum akan berakhir sampai fundamental ekonomi Jepang membaik dan Bank of Japan (BOJ) berani melanjutkan kenaikan suku bunga. "Ini adalah situasi di mana kita perlu melihat tindakan nyata sebelum kita dapat mempercayai apa pun terkait suku bunga. Selama fundamental tidak membaik, mata uang akan terus melemah," ujarnya.

Risiko USD/JPY Tembus 160 Jika Inflasi AS di Bawah Ekspektasi

Jane Foley, ahli strategi valuta asing senior di Rabobank, menilai intervensi bulan lalu berhasil dilakukan saat dolar AS sedang melemah, sehingga menekan biaya intervensi Jepang. Ia menambahkan, jika data CPI AS Juli lebih rendah dari perkiraan pasar, nilai dolar AS berpotensi jatuh tajam.

"Mungkin terlalu dini untuk mengharapkan Kementerian Keuangan Jepang melakukan intervensi lebih lanjut, tetapi dolar AS yang lebih lemah dikombinasikan dengan kekhawatiran potensi intervensi akan mengurangi kemungkinan USD/JPY melebihi 160," kata Foley.

Bank Sentral Australia Tahan Suku Bunga, Beri Sinyal Hawkish

Di kawasan Asia-Pasifik, Reserve Bank of Australia (RBA) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di 4,35% sesuai ekspektasi pasar. Namun, bank sentral Australia itu memberikan sinyal hawkish dengan menyatakan kenaikan suku bunga lebih lanjut masih mungkin dilakukan.

Sejak Februari, RBA telah menaikkan suku bunga total 75 basis poin untuk mengendalikan inflasi yang dipicu lonjakan biaya energi. Keputusan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat mempengaruhi pergerakan mata uang kawasan, termasuk terhadap dolar AS.

Reporter: Saiful
Sumber: vietnam.vn This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top