PIDIE JAYA — Suara ketukan kayu pemecah melinjo menjadi irama keseharian Muliana di tengah kesederhanaan huntara. Di kompleks Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, perempuan asal Lhoknga, Meureudu, ini membagi waktu antara membuat emping, menjaga kios, dan mengurus rumah tangga. Semua dilakukan demi menyambung hidup setelah banjir bandang merenggut alat produksinya.
Muliana menuturkan, pesanan emping mulai berdatangan kembali selepas Ramadan 2026. Namun, ia tak lagi mengerjakan dengan peralatan milik sendiri.
"Alat-alat yang kami punya sudah terbawa banjir. Alat yang sekarang dipakai ini punya orang lain. Alat kami sendiri sudah hanyut," ujarnya kepada Waspadaaceh.com, Minggu (9/8/2026).
Keterbatasan alat membuat kapasitas produksi Muliana ikut menurun. Jika pesanan menumpuk, ia dan suaminya, Muzakar, harus bergantian menghemat tenaga. Pekerjaan mengetok melinjo ini dibayar per bambu, dengan ongkos Rp22 ribu.
Dalam sehari, Muliana biasanya menuntaskan sekitar dua setengah bambu. Hasilnya ia alokasikan untuk kebutuhan dapur yang tak tertutup penghasilan suami.
"Kalau saya mengetok melinjo, hasilnya bisa membantu membeli kebutuhan seperti cabai. Suami bekerja sebagai tukang becak, jadi penghasilannya kadang tidak cukup," kata ibu lima anak ini.
Kondisi rumah tetap mereka di Lhoknga sebenarnya masih berdiri. Namun, lumpur dan kayu-kayu besar memenuhi bangunan dua lantai itu, membuatnya tak layak huni. Pengalaman menghadapi banjir sebelumnya membuat keluarga ini lebih sigap menyelamatkan dokumen penting.
"Karena sudah belajar dari pengalaman banjir sebelumnya, kami sempat membawa dokumen penting seperti sertifikat ke tempat yang lebih tinggi sehingga bisa diselamatkan," tuturnya.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan mereka bisa kembali ke rumah tetap. Informasi yang beredar menyebut lokasi hunian tetap akan berada di kawasan dekat gunung, namun belum ada kejelasan lebih lanjut.
Hidup di huntara bukan tanpa tantangan. Saat cuaca panas, udara di dalam bangunan terasa menyengat. Ketika angin kencang dan hujan datang, sebagian barang di sekitar huntara bisa beterbangan.
Untuk kebutuhan air, warga mengandalkan sumur bor. Airnya relatif bersih, tetapi pasokan bisa terganggu ketika mesin Sanyo mengalami kerusakan. "Kalau Sanyo rusak, air tidak bisa naik," ujarnya.
Bantuan pemerintah pun tak lagi rutin diterima keluarga ini. Bantuan terakhir yang mereka dapat berupa beras 20 kilogram, dan setelah itu belum ada lagi bantuan untuk kebutuhan sehari-hari maupun modal usaha.
Di tengah segala keterbatasan, Muliana tetap menghidupi dua anak yang masih duduk di bangku SD dan SMA, serta satu balita berusia empat tahun. Dua anak lainnya telah menyelesaikan sekolah. "Penghasilan suami dan penghasilan dari saya bantu-bantu ini kami cukup-cukupkan untuk kebutuhan sehari-hari. Anak saya lima, jadi memang harus pintar-pintar mengatur," pungkasnya.