Pencarian

Kembang Api dan Api Membara dalam Protes di Teheran

Minggu, 11 Januari 2026 • 10:00:03 WIB
Kembang Api dan Api Membara dalam Protes di Teheran
Demonstran Iran berkumpul di Teheran meski pemadaman internet berlangsung.

Para demonstran di Iran kembali turun ke jalan untuk menentang tindakan keras aparat terhadap gelombang protes yang kian meluas. Aksi ini berlangsung di tengah pemadaman internet yang diberlakukan pemerintah sejak Kamis (8/1/2026).

Meski akses internet diblokir, sejumlah video yang berhasil keluar dari Iran memperlihatkan ribuan orang tetap berunjuk rasa di Teheran hingga Sabtu pagi. Dalam rekaman tersebut, massa terdengar meneriakkan slogan keras seperti “Matilah Khamenei”, merujuk pada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, serta seruan “Hidup Shah”.

Aksi protes kembali pecah pada Sabtu malam. Warga terlihat berkumpul di kawasan utara Teheran, berdasarkan video yang telah diverifikasi AFP. Rekaman yang beredar di TRT World juga menunjukkan salah satu masjid di Iran terbakar di tengah kerusuhan.

Di Lapangan Punak, Teheran, para demonstran menyalakan kembang api sambil memukul panci dan meneriakkan slogan dukungan terhadap Dinasti Pahlavi yang tumbang usai Revolusi Islam 1979. Mereka juga menggaungkan simbol-simbol era pra-revolusi, termasuk seruan untuk mengembalikan monarki.

Menurut laporan The Guardian, aksi serupa terjadi di kota Mashhad. Massa berpawai di jalan-jalan kota kelahiran Khamenei, diiringi kobaran api sebagai bentuk pembangkangan terbuka terhadap pemerintah. Khamenei sendiri sebelumnya menyebut para demonstran sebagai “perusak” dan menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang menghasut kerusuhan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut angkat bicara. Ia berulang kali mengancam akan turun tangan jika otoritas Iran membunuh demonstran. Pada Jumat (9/1/2026), Trump menyebut pemerintah Iran berada dalam “masalah besar” dan memperingatkan agar tidak menggunakan kekerasan.

Sehari kemudian, Trump kembali menyatakan AS “siap membantu” para demonstran yang menghadapi penindakan semakin keras. Melalui media sosial Truth Social, ia menulis bahwa Iran sedang mengincar kebebasan dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, meski tanpa penjelasan detail soal bentuk bantuan tersebut.

Di sisi lain, pemerintah Iran memperingatkan warga agar tidak ikut aksi protes. Jaksa Agung Iran, Mohammad Mahvadi Azad, menyebut para peserta unjuk rasa sebagai “musuh Tuhan”, tuduhan berat yang bisa berujung hukuman mati. Televisi pemerintah bahkan menegaskan bahwa siapa pun yang membantu demonstran juga berpotensi dikenai dakwaan serupa.

Tokoh oposisi sekaligus putra mantan Shah Iran, Reza Pahlavi, menyerukan masyarakat untuk terus turun ke jalan pada Sabtu dan Minggu. Ia meminta para pendukungnya merebut dan menguasai pusat kota serta mengibarkan bendera “singa dan matahari”, simbol Iran sebelum 1979.

“Tujuan kita bukan sekadar turun ke jalan, tapi merebut pusat kota dan mempertahankannya,” ujar Pahlavi, seraya menyatakan niatnya untuk kembali ke Iran.

Pemadaman internet dan jaringan seluler yang terus berlanjut membuat media internasional kesulitan memastikan jumlah pasti peserta aksi. Namun, gelombang protes ini disebut-sebut sebagai yang terbesar di Iran dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi tantangan serius bagi kekuasaan rezim saat ini.

Bagikan

Berita Terkini

Indeks