ACEH BESAR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar mencatat 30 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga Juli 2026. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 21 hektare, tersebar di delapan kecamatan.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Besar, Ridwan Jamil, menyebut Kecamatan Blang Bintang dan Lembah Seulawah menjadi wilayah dengan catatan kejadian terbanyak dibandingkan daerah lain.
“Sejak Januari hingga Juli 2026, kejadian karhutla diperkirakan mencapai sekitar 21 hektare,” kata Ridwan Jamil, Jumat (7/8/2026).
Cuaca Kering Membuat Api Cepat Meluas
Ridwan menjelaskan, kondisi cuaca yang cenderung kering menjadi pemicu utama meningkatnya risiko kebakaran. Di kawasan kering, api yang muncul berpotensi cepat membesar dan meluas apabila tidak segera ditangani.
Vegetasi yang mengering pada musim kemarau disebutnya menjadi bahan bakar alami yang mempercepat perambatan api.
Larangan Membuka Lahan dengan Cara Dibakar
BPBD Aceh Besar mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dalam bentuk apa pun. Imbauan ini ditegaskan menyusul tingginya potensi kebakaran di tengah kondisi kemarau.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Jika menemukan titik api atau indikasi kebakaran, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani secepat mungkin sehingga tidak meluas,” ujarnya.
Pemantauan dan Koordinasi di Wilayah Rawan
BPBD Aceh Besar terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang memiliki potensi karhutla. Koordinasi dengan pemerintah kecamatan, TNI, Polri, serta instansi terkait juga diperkuat untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran.
Ridwan menekankan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam pencegahan. Ia berharap warga tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api di kawasan rawan.
“Pencegahan menjadi kunci utama. Masyarakat memiliki peran besar untuk menjaga lingkungan agar kebakaran tidak semakin meluas,” pungkasnya.