BANDA ACEH — Rangkaian kemenangan Kesultanan Aceh melawan Portugis pada abad ke-16 tidak lepas dari kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah. Cucu Sultan Aceh sekaligus Pemimpin Darud Donya, Cut Putri, menuturkan bahwa sang sultan memerintah sekitar 1507 hingga 1530 Masehi dan berhasil membangun fondasi kekuatan militer yang kemudian diteruskan oleh para penerusnya.
Menurut Cut Putri, jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511 menjadi titik balik yang mendorong Sultan Ali Mughayat Syah bertindak. Seluruh wilayah Asia Tenggara saat itu terancam, dan sultan memilih bangkit dengan menyatukan berbagai wilayah di Aceh.
Bagaimana Pasukan Aceh Mematahkan Serangan Portugis?
Cut Putri menjelaskan, salah satu perlawanan tercatat terjadi pada 1519 ketika pasukan Portugis pimpinan Gaspar de Costa menyerang Aceh. Serangan tersebut berhasil dipatahkan di Kuala Aceh, dan Gaspar de Costa ditangkap sebelum akhirnya dibebaskan setelah Portugis membayar tebusan.
Dua tahun berselang, Portugis kembali menyerang dengan kekuatan lebih besar di bawah pimpinan Jorge de Brito. Pasukan Aceh kembali unggul, dan Jorge de Brito tewas dalam pertempuran tersebut.
Laksamana Ibrahim Gugur di Benteng Samudera Pasai
Setelah kalah di Pedir, Portugis membangun basis pertahanan baru di Samudera Pasai. Mengetahui hal itu, Laksamana Ibrahim yang disebut sebagai adik Sultan Ali Mughayat Syah menggalang kekuatan dari sejumlah wilayah Aceh.
Pasukan Samudera Pasai, Pedir, dan Aceh bergabung menghadapi Portugis di benteng Samudera Pasai pada 1524. Pertempuran berakhir dengan kemenangan Aceh, benteng berhasil direbut dan dihancurkan, namun Laksamana Ibrahim gugur di medan laga.
Kemenangan ini memberi dampak besar. Berbagai perlengkapan perang yang dirampas dari benteng Portugis memperkuat kemampuan militer Kesultanan Aceh.
Dua Serangan Beruntun yang Berhasil Dikalahkan
Portugis tidak menyerah. Pada 1527, pasukan pimpinan Francesco de Mello menyerang Aceh dan kembali dikalahkan. Setahun kemudian, Gubernur Portugis Simon de Souza mencoba peruntungan, tetapi bernasib sama—tewas dalam pertempuran, sementara sejumlah perwiranya ditangkap.
Cut Putri menilai rangkaian kemenangan tersebut meningkatkan kepercayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara terhadap kemampuan Aceh. Posisi Kesultanan Aceh di kawasan Asia Tenggara kian kuat, dan Sultan Ali Mughayat Syah mulai bersiap menyerang Portugis di Malaka.
“Namun, beliau jatuh sakit dan wafat sebelum rencana tersebut terlaksana,” ujarnya. Sultan Ali Mughayat Syah wafat pada 12 Zulhijah 936 Hijriah atau 7 Agustus 1530 Masehi.
Gelar Al-Ghazi dan Warisan bagi Penerus Takhta
Makam Sultan Ali Mughayat Syah memuat inskripsi yang menegaskan perannya. Menurut catatan peneliti Prancis Ludvik Kallus dan Claude Guillot, nisan tersebut menyebutnya sebagai Al-Ghazi fi al-Barri wa al-Bahri, yang dimaknai sebagai sosok yang berjuang di darat dan di laut.
Cut Putri menambahkan, semangat perjuangan Sultan Ali Mughayat Syah diwariskan kepada penerusnya, antara lain Sultan Alauddin al-Kahhar dan Sultan Iskandar Muda. Perkembangan Kesultanan Aceh pada masa berikutnya menjadikannya salah satu kekuatan politik dan militer penting di Asia Tenggara.
“Semangat perjuangan Sultan Ali Mughayat Syah kemudian diwariskan kepada para penerusnya. Kesultanan Aceh berkembang menjadi salah satu kekuatan penting di kawasan Asia Tenggara,” tuturnya.