Pendekatan ini ditempuh oleh seorang pengguna yang mendokumentasikan pengalamannya di forum teknologi. Ia menggunakan Cockpit — antarmuka web berbasis Linux untuk administrasi server — sebagai fondasi, bukan sistem operasi NAS penuh seperti TrueNAS, Unraid, atau OpenMediaVault. Hasilnya: sebuah Network-Attached Storage yang sepenuhnya dikustomisasi dengan hanya paket yang ia perlukan.
Selama ini, pilihan distribusi NAS memang beragam. TrueNAS, Unraid, dan OpenMediaVault mendominasi sebagai platform paling populer. Sementara Rockstor dan XigmaNAS menjadi pemain yang lebih jarang terdengar. Bahkan, pengguna yang lebih teknis bisa menjalankan virtualisasi melalui Proxmox dan melewatkan pengontrol SATA ke mesin virtual untuk membuat NAS kustom.
Cockpit bukanlah sistem operasi NAS. Ia adalah alat administrasi server berbasis web yang sudah tersedia di repositori sebagian besar distribusi Linux modern, termasuk Fedora, RHEL, dan Debian. Dengan antarmuka yang intuitif, pengguna bisa memantau sumber daya, mengelola penyimpanan, dan mengonfigurasi jaringan tanpa harus menyentuh baris perintah.
Keunggulan utama pendekatan ini adalah efisiensi. OS NAS seperti TrueNAS Scale atau Unraid membutuhkan RAM minimal 8-16 GB dan prosesor yang relatif modern. Sementara Cockpit bisa berjalan di mesin dengan spesifikasi rendah — bahkan dengan RAM 2 GB dan prosesor dual-core lawas. Ini membuatnya ideal untuk komputer bekas yang sudah tidak mampu menjalankan sistem operasi modern.
Dengan Cockpit, pengguna tetap bisa mengelola partisi, membuat RAID perangkat lunak, mengatur berbagi file melalui NFS atau Samba, dan memonitor kesehatan disk. Semua dilakukan lewat browser. Untuk kebutuhan yang lebih spesifik — seperti menjalankan Plex, Nextcloud, atau sistem backup — pengguna tinggal menambahkan paket Docker atau Podman melalui terminal.
Kombinasi Cockpit dengan layanan tambahan lewat container membuatnya setara dengan fitur-fitur dasar NAS komersial. Bedanya, tidak ada bloatware atau lisensi berbayar. Semua komponen bersifat open-source dan gratis.
Pendekatan ini jelas bukan untuk pemula yang ingin solusi siap pakai. TrueNAS dan Unraid menawarkan pengalaman out-of-the-box dengan antarmuka yang lebih terintegrasi untuk manajemen penyimpanan. Cockpit membutuhkan pengetahuan dasar Linux — terutama untuk mengonfigurasi berbagi file atau menginstal container.
Namun, bagi pengguna yang sudah familiar dengan Linux dan memiliki perangkat keras terbatas, Cockpit memberikan fleksibilitas tanpa kompromi. Tidak perlu membeli lisensi Unraid seharga $59 hingga $129 (sekitar Rp 944 ribu hingga Rp 2,06 juta) atau mengupgrade RAM hanya untuk menjalankan OS NAS.
Di pasar Indonesia, di mana perangkat keras baru masih relatif mahal dan banyak pengguna memiliki PC lawas, pendekatan ini bisa menjadi solusi penyimpanan yang ekonomis. Dengan modal harddisk bekas dan PC Pentium 4 atau Core 2 Duo, seseorang bisa membangun NAS fungsional untuk backup foto, dokumen, atau media streaming di jaringan rumah.
Kendalanya tetap pada literasi teknis. Namun, dengan semakin banyaknya komunitas Linux di Indonesia dan dokumentasi berbahasa Indonesia yang terus bertambah, hambatan itu perlahan terkikis. Cockpit bisa menjadi jembatan bagi pengguna rumahan untuk beralih dari solusi penyimpanan cloud berbayar ke sistem yang mereka kendalikan sendiri sepenuhnya.