BANDA ACEH — Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menawarkan sejumlah peluang investasi strategis di ibu kota Provinsi Aceh tersebut dalam forum Jakarta Future Festival 2026 yang digelar di Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Ajakan ini disampaikan di hadapan pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas internasional dengan mengusung semangat kolaborasi pascatsunami.
Dalam forum bertajuk Navigating Resilience yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, Illiza mengangkat kisah kebangkitan Aceh pascatsunami 2004 sebagai bukti nyata bahwa kolaborasi mampu mengubah krisis menjadi peluang kemajuan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan Illiza, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banda Aceh pada 2025 mencapai 89,55. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang berada pada angka 75,90.
Capaian itu menjadi modal dasar untuk meyakinkan investor bahwa Banda Aceh siap menjadi mitra pembangunan. “Jika ada yang bertanya apakah Banda Aceh siap untuk berkolaborasi dan menerima investasi, jawabannya pasti. Kami sangat siap berkolaborasi,” ujar Illiza dalam forum tersebut.
Illiza merinci sejumlah sektor yang terbuka untuk kolaborasi. Di bidang pariwisata, peluang investasi meliputi pengembangan marina, resort, perhotelan, dan pusat hiburan keluarga. Pemerintah kota juga membuka kerja sama untuk peningkatan kompetensi sumber daya manusia melalui Banda Aceh Academy.
Pada sektor perikanan dan logistik, peluang mencakup pembangunan cold storage, pabrik pengalengan ikan, industri ekstraksi minyak ikan dan kolagen, serta galangan kapal. Sementara di sektor ekonomi kreatif, Banda Aceh menawarkan pengembangan industri parfum melalui program branding “Banda Aceh Kota Parfum”. Program ini mencakup pembangunan laboratorium formulasi, penguatan rantai pasok, dan pusat edukasi parfum Indonesia.
Di bidang teknologi, pemerintah kota membuka ruang kerja sama untuk pengembangan startup lokal, mitigasi bencana berbasis Internet of Things (IoT), serta penguatan sistem retribusi digital. Sebagai daerah dengan pengalaman panjang dalam penanggulangan bencana, Banda Aceh juga siap berbagi pengetahuan di bidang manajemen krisis, sistem peringatan dini, riset kebencanaan, dan pembangunan infrastruktur komunikasi darurat.
Peluang investasi juga diarahkan pada sektor lingkungan. Illiza menyebut pengembangan ekonomi sirkular melalui pengolahan sampah organik, budidaya maggot, daur ulang plastik, hingga produksi material konstruksi ramah lingkungan terbuka bagi investor.
Illiza menegaskan posisi strategis Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh sekaligus gerbang kawasan Selat Malaka. Menurutnya, tren pembangunan yang positif, meningkatnya kerja sama antardaerah, serta iklim investasi yang aman dan kondusif menjadikan Banda Aceh memiliki potensi besar menjadi mitra pembangunan bagi berbagai pihak.