ACEH — Pernyataan itu disampaikan Lestari dalam diskusi daring bertajuk "Membangun Sistem dan Pembaruan Infrastruktur Energi Listrik Indonesia Menyongsong 2045", Rabu (10/6/2026). Acara yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 ini menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan di sektor energi.
"Indonesia menghadapi kendala geografis serius berupa ketidaksesuaian spasial antara pusat beban dan sumber energi terbarukan yang melimpah. Dibutuhkan perencanaan yang matang dan langkah nyata untuk mewujudkan keandalan pasokan listrik yang merata di tanah air," ujar Rerie, sapaan akrabnya, dalam keterangan tertulis.
Politikus itu mendorong negara hadir menjalankan kewajiban konstitusionalnya. Menurutnya, akses energi merupakan kebutuhan dasar yang harus disediakan demi meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh warga negara.
Rerie berpendapat pasokan listrik yang stabil dan meluas merupakan salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menambahkan, kebutuhan listrik juga krusial untuk aktivitas pembelajaran jarak jauh, pola hidup mobile, serta mekanisme kerja lain yang semakin meningkat pasca-pandemi Covid-19.
Transisi menuju ekosistem energi listrik modern pada 2045, kata dia, menuntut kerja sama semua pihak. Tujuannya untuk membangun sistem yang benar-benar siap menjawab tantangan di masa depan.
Diskusi yang dimoderatori Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI, Arimbi Heroepoetri, itu menghadirkan sejumlah narasumber. Mereka adalah Yunan Nasikhin, ST, MT (Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Madya Direktorat Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM), Jarot Setyawan (Executive Vice President Operasi Sistem Ketenagalistrikan PLN), dan Eko Sulistyo (Direktur Institute for Climate Policy & Global Politics).
Hadir pula Verena Puspawardani dari Engagement Lead Low Carbon Development Initiative (LCDI) sebagai penanggap. Diskusi ini menjadi forum untuk membahas strategi pembaruan infrastruktur kelistrikan nasional.