MEUREUDU — Bencana banjir yang menerjang Pidie Jaya pada penghujung 2025 lalu tak hanya merendam permukiman, tetapi juga menghanyutkan bangunan MIN 5 Pidie Jaya. Lokasi sekolah itu kini berubah menjadi aliran sungai. Kini, hampir tujuh bulan setelah bencana, proses pembangunan kembali madrasah tersebut mulai berjalan.
Kepala Kanwil Kementerian Agama Aceh, Azhari, mengatakan gedung baru MIN 5 Pidie Jaya dibangun di atas lahan seluas 6.200 meter persegi. Lahan tersebut merupakan hibah dari sejumlah warga, termasuk Nur Azizah, istri mantan Kepala Kanwil Kemenag Aceh periode 2014–2020.
“Pembangunan MIN ini sekarang baru tahap penimbunan tanah, sekitar 70 persen yang sudah tertimbun,” ujar Azhari di Banda Aceh, Jumat (12/6/2026). Lokasi baru dipilih karena dinilai lebih aman dan tidak berada di kawasan terdampak langsung aliran sungai.
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam mengalokasikan dana sebesar Rp12 miliar untuk membiayai pembangunan fisik sekolah hingga penyediaan meubelair baru. Selama proses konstruksi berlangsung, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan di bangunan sementara yang telah disiapkan.
“Alhamdulillah MIN 5 Pidie Jaya segera dibangun, terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, terutama masyarakat yang telah ikhlas menghibahkan tanahnya,” kata Azhari.
Pembangunan madrasah ini tidak hanya mengandalkan anggaran negara. Penyusunan master plan mendapat bantuan dari Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala. Sementara itu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), Satgas PRR Sumatera, serta Kanwil Kemenag Aceh turut membantu proses penimbunan lahan.
Sekretaris Dirjen Pendidikan Islam, Arskal Salim, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Aceh, khususnya warga Seunong, yang telah berperan aktif menghibahkan tanah mereka. Menurutnya, kontribusi ini mendukung keberlangsungan pendidikan keagamaan dan pelayanan Kantor Urusan Agama (KUA) di daerah tersebut.
Banjir yang melanda Pidie Jaya pada akhir November 2025 silam menyisakan duka mendalam bagi warga. MIN 5 yang selama ini menjadi tempat belajar puluhan siswa lenyap dalam sekejap. Kini, dengan dimulainya pembangunan di lokasi baru, warga mulai menaruh harapan agar anak-anak mereka bisa kembali belajar dalam suasana yang aman dan representatif.