ACEH — Presiden AS Donald Trump menegaskan, kesepakatan sementara dengan Iran memuat klausul yang melarang Tehran memiliki senjata nuklir. "Satu-satunya hal yang benar-benar penting bagi saya adalah Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, dan itu dinyatakan dengan lantang dan jelas," kata Trump kepada wartawan, melansir Al Arabiya.
Trump juga memperingatkan bahwa "malapetaka akan menimpa" Iran jika negara itu berusaha memperoleh senjata nuklir. Ia menambahkan, AS tidak memiliki kewajiban untuk berinvestasi di Iran, bahkan setelah kesepakatan dengan Negeri Para Mullah untuk mengakhiri perang Timur Tengah. "Kami tidak menginvestasikan uang apa pun di Iran," ujarnya.
Trump secara terang-terangan membandingkan kesepakatan yang dirundingkan pemerintahannya dengan perjanjian tahun 2015 yang ditandatangani mantan Presiden Barack Obama. "Kesepakatan ini adalah tembok menuju senjata nuklir. Kesepakatan Obama adalah jalan menuju senjata nuklir. Kesepakatan saya, mereka tidak bisa memiliki senjata nuklir, mereka akan hancur," kata Trump.
Pada 2015, Obama mengamankan kesepakatan nuklir dengan Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi, sebuah proses yang memakan waktu dua tahun. Trump kemudian menarik AS dari kesepakatan itu selama masa jabatan pertamanya.
Para pejabat AS dan Iran dijadwalkan tiba di Swiss pada Jumat pekan ini untuk memulai negosiasi terperinci. Pembicaraan ini membuka jendela waktu 60 hari untuk diskusi teknis yang kompleks, termasuk masa depan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran dan pencabutan sanksi.
Sekutu Eropa menyatakan kekhawatiran bahwa tim negosiasi AS yang kurang berpengalaman dapat kesulitan mencapai kesepakatan yang kuat, berpotensi menyebabkan kebuntuan berkepanjangan. Para diplomat dan analis mencatat, negosiator Iran sangat terampil dalam diplomasi nuklir, sering mengeksploitasi kelemahan lawan dan mengulur waktu untuk memajukan agenda mereka.
Salah satu faktor kunci dalam kesepakatan sementara ini adalah situasi di Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pasukannya akan tetap berada di selatan Lebanon selama diperlukan untuk mengatasi Hizbullah, sementara Teheran menuntut penarikan pasukan Israel.
Trump tampak mengkritik strategi Israel di Lebanon dan menyarankan Suriah—yang di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa berjuang menstabilkan negara setelah perang saudara—mungkin berada di posisi terbaik untuk melakukan intervensi. "Saya menyarankan kepada Israel untuk membiarkan Suriah menangani Hizbullah karena jujur saja, saya pikir mereka melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam hal itu," katanya.