Pengamat Peringatkan Aceh Jangan Ulangi Kesalahan Era LNG Arun, SDM Lokal Harus Disiapkan Sejak Sekarang untuk Proyek Gas Andaman

Penulis: Ragil  •  Senin, 22 Juni 2026 | 13:31:01 WIB
Pengamat menyoroti pentingnya persiapan SDM lokal untuk proyek gas di Blok Andaman.

LHOKSEUMAWE — Ketika Pemerintah Aceh masih berjuang agar gas bumi dari Lapangan Tangkulo, Layaran, dan Timphan di Blok Andaman bisa didaratkan di Kawasan Ekonomi Khusus Arun (KEKAL), pengamat justru mengingatkan adanya kewajiban yang tak kalah genting. Persiapan sumber daya manusia (SDM) lokal, menurut pakar hulu migas DR. Ridwan Nyak Baik, menjadi pekerjaan rumah paling mendasar yang sudah harus dimulai sekarang.

"Jangan sampai nanti, ketika gas sudah mengalir dan fasilitas sudah beroperasi, putra daerah hanya menjadi penonton, sementara kekayaan alam dikelola oleh tenaga kerja dari luar daerah," ujar Ridwan dalam wawancara dengan Waspada Aceh, Senin (22/6/2026).

Pelajaran Pahit dari Era LNG Arun 1970-an

Ridwan yang pernah bertugas di Pertamina Rantau Kualasimpang ini meminta semua pihak menarik pelajaran dari pengembangan kilang LNG Arun empat dekade lalu. Proyek raksasa dengan investasi lebih dari 9 miliar dolar AS itu, menurutnya, justru melahirkan luka sosial yang dalam.

Saat itu, pembangunan kilang memaksa tergusurnya desa-desa nelayan beserta tambak bandeng, tambak udang, dan hutan bakau. "Memang secara administratif, ganti rugi atas lahan yang terpakai sudah dibayarkan. Namun, masyarakat pesisir tidak mendapatkan bimbingan untuk beradaptasi. Mereka tidak diajarkan cara mengubah mata pencaharian dari nelayan tradisional menjadi petani di lahan pengganti," jelasnya.

Kegagalan juga terjadi pada persiapan tenaga kerja muda. Minimnya pelatihan teknis membuat putra-putra Aceh kalah bersaing merebut posisi strategis di industrinya sendiri.

Tiga Langkah Konkret yang Harus Dilakukan Sekarang

Untuk menghindari apa yang disebutnya sebagai "Arun jilid kedua", Ridwan mendesak Pemerintah Aceh, khususnya Pemkot Lhokseumawe dan Pemkab Aceh Utara, untuk bertindak proaktif. Ia menyoroti tiga hal utama yang harus segera dijalankan:

  • Penjaringan pemuda pesisir: Pemuda dari wilayah yang akan terkena dampak langsung proyek harus diidentifikasi dan dikirim ke lembaga pendidikan vokasi, baik di dalam maupun luar provinsi.
  • Pelatihan keterampilan spesifik: Materi yang dibutuhkan meliputi keahlian teknis industri migas modern, seperti mekanik, ahli pengelasan, dan spesialis pemasangan pipa bawah laut.
  • Pendanaan melalui CSR perusahaan: Ridwan menyarankan koordinasi dengan Mubadala, Pupuk Iskandar Muda (PIM), PLN, Perusahaan Gas Arun (PAG), dan perusahaan lain yang sudah beroperasi. Dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR) bisa difokuskan pada pemberdayaan tenaga kerja lokal dan pelestarian lingkungan.

Nasib Nelayan di Tengah Rencana Pipa Bawah Laut

Perhatian khusus juga harus diberikan kepada masyarakat nelayan. Ridwan memprediksi pembangunan jalur pipa gas akan mengubah kondisi perairan dangkal yang selama ini menjadi lokasi utama penangkapan ikan.

"Pemerintah perlu memberikan kemudahan akses dan bantuan komprehensif, mulai dari pelatihan melaut di perairan lebih dalam, penyediaan peralatan tangkap yang sesuai, hingga bantuan permodalan," tegasnya.

Ia menekankan bahwa masa jeda akibat proses perubahan PoD Blok Andaman adalah momentum emas yang tidak boleh disia-siakan. "Waktu persiapan ini sangat berharga. Manfaatkan sebaik-baiknya," pungkasnya.

Reporter: Ragil
Sumber: waspadaaceh.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top