LHOKSEUMAWE — Ketika Pemerintah Aceh masih berjuang agar gas bumi dari Lapangan Tangkulo, Layaran, dan Timphan di Blok Andaman bisa didaratkan di Kawasan Ekonomi Khusus Arun (KEKAL), pengamat justru mengingatkan adanya kewajiban yang tak kalah genting. Persiapan sumber daya manusia (SDM) lokal, menurut pakar hulu migas DR. Ridwan Nyak Baik, menjadi pekerjaan rumah paling mendasar yang sudah harus dimulai sekarang.
"Jangan sampai nanti, ketika gas sudah mengalir dan fasilitas sudah beroperasi, putra daerah hanya menjadi penonton, sementara kekayaan alam dikelola oleh tenaga kerja dari luar daerah," ujar Ridwan dalam wawancara dengan Waspada Aceh, Senin (22/6/2026).
Ridwan yang pernah bertugas di Pertamina Rantau Kualasimpang ini meminta semua pihak menarik pelajaran dari pengembangan kilang LNG Arun empat dekade lalu. Proyek raksasa dengan investasi lebih dari 9 miliar dolar AS itu, menurutnya, justru melahirkan luka sosial yang dalam.
Saat itu, pembangunan kilang memaksa tergusurnya desa-desa nelayan beserta tambak bandeng, tambak udang, dan hutan bakau. "Memang secara administratif, ganti rugi atas lahan yang terpakai sudah dibayarkan. Namun, masyarakat pesisir tidak mendapatkan bimbingan untuk beradaptasi. Mereka tidak diajarkan cara mengubah mata pencaharian dari nelayan tradisional menjadi petani di lahan pengganti," jelasnya.
Kegagalan juga terjadi pada persiapan tenaga kerja muda. Minimnya pelatihan teknis membuat putra-putra Aceh kalah bersaing merebut posisi strategis di industrinya sendiri.
Untuk menghindari apa yang disebutnya sebagai "Arun jilid kedua", Ridwan mendesak Pemerintah Aceh, khususnya Pemkot Lhokseumawe dan Pemkab Aceh Utara, untuk bertindak proaktif. Ia menyoroti tiga hal utama yang harus segera dijalankan:
Perhatian khusus juga harus diberikan kepada masyarakat nelayan. Ridwan memprediksi pembangunan jalur pipa gas akan mengubah kondisi perairan dangkal yang selama ini menjadi lokasi utama penangkapan ikan.
"Pemerintah perlu memberikan kemudahan akses dan bantuan komprehensif, mulai dari pelatihan melaut di perairan lebih dalam, penyediaan peralatan tangkap yang sesuai, hingga bantuan permodalan," tegasnya.
Ia menekankan bahwa masa jeda akibat proses perubahan PoD Blok Andaman adalah momentum emas yang tidak boleh disia-siakan. "Waktu persiapan ini sangat berharga. Manfaatkan sebaik-baiknya," pungkasnya.