Rupiah Tembus Rp17.988 per Dolar AS, Terlemah dalam Sepekan

Penulis: Saiful  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 09:42:01 WIB
Rupiah melemah ke Rp17.988 per dolar AS, terlemah dalam sepekan terakhir.

ACEH — Berdasarkan data pasar uang yang dirilis Jumat pagi, rupiah dibuka melemah dan langsung menembus level Rp17.988. Posisi ini nyaris menyentuh batas psikologis Rp18.000, level yang terakhir kali diuji pada masa krisis 1998. Sepanjang pekan ini, rupiah sudah kehilangan lebih dari 150 poin terhadap greenback.

Faktor Eksternal dan Internal yang Menekan Kurs

Tekanan terhadap rupiah datang dari dua sisi. Secara eksternal, indeks dolar AS (DXY) masih bertengger di level tinggi didorong data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan. Investor global kembali memborong aset dolar, meninggalkan mata uang emerging market seperti rupiah.

Dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati data cadangan devisa Indonesia yang akan dirilis pekan depan. Kekhawatiran terhadap berkurangnya bantalan devisa untuk intervensi Bank Indonesia (BI) turut menekan sentimen. BI sendiri sebelumnya telah mengonfirmasi tetap berada di pasar untuk menstabilkan kurs.

Dampak ke Dunia Usaha: Biaya Impor Membengkak

Pelemahan rupiah di atas Rp17.900 langsung berdampak pada sektor riil. Perusahaan yang menggantungkan bahan baku impor—seperti produsen makanan-minuman, elektronik, dan farmasi—harus merogoh kocek lebih dalam. Setiap kenaikan Rp100 per dolar AS berarti tambahan beban biaya produksi yang signifikan untuk perusahaan dengan nilai impor bulanan di atas US$10 juta.

Di sisi lain, eksportir komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit justru diuntungkan. Penerimaan mereka dalam dolar AS menjadi lebih bernilai saat dikonversi ke rupiah. Namun, keuntungan ini bisa tergerus jika permintaan global melemah seiring perlambatan ekonomi China dan Eropa.

Apa Artinya bagi Investor Pasar Modal?

Bagi investor saham, pelemahan rupiah biasanya menjadi sentimen negatif. Sektor perbankan dan properti—yang memiliki eksposur utang valas besar—kerap menjadi yang pertama tertekan. Data perdagangan asing pun patut dicermati: jika investor asing melanjutkan aksi jual bersih (net sell) di pasar obligasi dan saham, tekanan terhadap rupiah bisa semakin dalam.

Investor obligasi justru bisa memanfaatkan situasi. Yield Surat Berharga Negara (SBN) yang naik seiring pelemahan rupiah menjadi daya tarik bagi pemburu imbal hasil tinggi. Namun, risiko nilai tukar tetap menjadi pertimbangan utama bagi investor asing.

Kapan Rupiah Bisa Berbalik?

Analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 dalam jangka pendek. Titik balik potensial datang dari rilis data inflasi AS pekan depan dan keputusan suku bunga Bank Indonesia di akhir bulan. Jika BI menaikkan suku bunga acuan, rupiah bisa mendapat angin segar untuk menguat.

Siapa yang Paling Terdampak Pelemahan Ini?

Pelemahan rupiah paling dirasakan oleh importir, perusahaan dengan utang dolar, dan masyarakat kelas menengah yang mengonsumsi barang impor. Sebaliknya, eksportir dan pekerja migran Indonesia (PMI) yang mengirimkan remitansi dalam dolar justru diuntungkan.

Apakah BI Akan Turun Tangan Lagi?

Bank Indonesia telah mengonfirmasi akan terus melakukan intervensi di pasar valas dan pasar obligasi untuk menjaga stabilitas. Gubernur BI sebelumnya menyatakan bahwa prioritas utama saat ini adalah mengendalikan volatilitas kurs. Langkah triple intervention—spot, DNDF, dan pembelian SBN—masih menjadi andalan.

Berapa Target Kurs Rupiah Akhir Tahun?

Pemerintah dan BI dalam APBN 2024 mengasumsikan kurs rupiah di kisaran Rp15.000 per dolar AS. Namun, dengan tekanan global yang masih kuat, target itu sulit tercapai. Sejumlah analis me

Reporter: Saiful
Sumber: kl.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top