BANDA ACEH — Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kanwil Kemenkum) Aceh berlangsung berbeda. Seluruh jajaran aparatur sipil negara (ASN) kompak mengenakan wastra batik nusantara sebagai simbol pelestarian budaya. Namun, di balik kemeriahan busana, isi amanat upacara justru bernada keras dan serius.
Arabi, yang bertindak sebagai inspektur upacara, membacakan pidato tertulis Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji. Pesan paling tajam ditujukan kepada para ayah di Indonesia. Mereka diingatkan untuk tidak menjadi bagian dari fenomena fatherless country—di mana ayah hadir secara fisik tetapi hampa secara psikologis bagi anak-anaknya.
"Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena fatherless country di mana ayah hadir secara fisik, namun absen secara psikologis. Kekosongan ini sering kali digantikan oleh musuh di dalam rumah, yaitu gawai," ujar Arabi di hadapan peserta upacara, Senin.
Peringatan itu tidak berhenti pada soal kehadiran ayah. Arabi, membacakan amanat menteri, menyebut bahwa kelalaian pengasuhan dan hilangnya figur orang tua menjadi pemicu langsung meledaknya penyakit sosial. Tawuran antarpelajar, perundungan (bullying), pergaulan bebas, hingga jeratan narkoba disebut sebagai alarm darurat bahwa fungsi keluarga tengah mengalami malafungsi.
Dalam pidato tersebut, kemajuan teknologi di era VUCA—Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity—dinilai telah merembet masuk tanpa izin ke ruang keluarga lewat gawai. Para ayah pun didorong untuk mengambil peran aktif di rumah, bukan sekadar menjadi pencari nafkah.
"Wahai para ayah, letakkan gawai Anda di rumah, peluk anak-anakmu, ajak mereka berdialog, dan batasi waktu layar (screen time). Jangan biarkan meja makan sunyi karena semua sibuk menatap layar," tegas Arabi dalam amanat yang dibacakannya.
Selain persoalan pola asuh, momentum Harganas ke-33 juga digunakan untuk menekankan pentingnya mengapitalisasi bonus demografi demi menyongsong Indonesia Emas 2045. Kuncinya, menurut Menteri, ada pada penguatan tiga pilar utama pembangunan keluarga: kesehatan melalui penuntasan stunting, pendidikan karakter, dan ketahanan mental.
"Keluarga bukan sekadar unit terkecil masyarakat, melainkan hulu dari segala kebijakan publik dan penentu arah pembangunan nasional," kata Arabi menutup pembacaan amanat. Ia menambahkan bahwa kemajuan ekonomi dan infrastruktur yang megah tidak akan bermakna tanpa diimbangi oleh kualitas sumber daya manusia yang bermoral dan bermental baja.
Upacara Harganas ke-33 di lingkungan Kanwil Kemenkum Aceh ditutup dengan komitmen bersama seluruh ASN untuk memperkuat ketahanan keluarga masing-masing. Mereka sepakat menjadikan keluarga sebagai benteng pertahanan utama bangsa di tengah gempuran era digital.