Steve Clarke Mundur dari Timnas Skotlandia Usai Gagal Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia Wanita 2023

Penulis: Saiful  •  Senin, 29 Juni 2026 | 18:37:01 WIB
Steve Clarke mengumumkan pengunduran diri dari pelatih Timnas Skotlandia usai kegagalan lolos Piala Dunia Wanita 2023.

ACEH — Clarke mengumumkan pengunduran dirinya kepada para pemain di hotel Charlotte, Sabtu (29/7) malam waktu setempat. Pengumuman itu disampaikan tepat setelah Skotlandia dipastikan tersingkir dari Piala Dunia Wanita 2023. Skuad asuhannya gagal melaju dari Grup E yang dihuni Brasil, Maroko, dan Haiti.

Kontrak Baru Tak Mengubah Rencana

Keputusan ini mengejutkan. Sebulan sebelumnya, Clarke menandatangani perpanjangan kontrak berdurasi empat tahun—yang seharusnya mencakup Euro 2028 dan Piala Dunia 2030. "Menandatangani kontrak sebelum Piala Dunia adalah upaya memberi kenyamanan bagi pemain bahwa perjalanan bisa berlanjut," ujar Clarke dalam wawancara eksklusif yang dirilis Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) di YouTube.

"Saya selalu punya bayangan: jika tidak lolos dari grup—yang sudah kami coba di tiga turnamen—maka itu saat yang tepat untuk mundur. Sebaliknya, jika kami mendapat satu poin tambahan dan lolos, saya mungkin bertahan untuk turnamen berikutnya."

Kotak Centang yang Terisi Semua

Bagi Clarke, keputusan ini terasa mudah. Ia telah mencapai seluruh target pribadinya. "Saya ingin pergi ke turnamen besar bersama negara. Itu saya lakukan di Euro 2020 yang terpengaruh Covid, lalu Euro 2024 di Jerman luar biasa. Ambisi seumur hidup saya adalah tampil di Piala Dunia. Saya sudah melakukannya. Jadi, ini waktu yang tepat untuk lengser," kata Clarke.

Ia menyampaikan langsung kepada para pemain pukul 19.00 waktu setempat. Tujuh atau delapan pemain telah bersamanya sejak awal masa kepelatihan. "Saya harus memberi tahu kapten Andy Robertson sebelum rapat, karena dia pasti ingin menyampaikan sesuatu kepada saya," kenang Clarke.

Kritik dan Kebanggaan yang Berdampingan

Meski menuai kritik tajam setelah kalah beruntun dari Maroko dan Brasil, Clarke tetap menyebut pengalaman Piala Dunia ini "brilian". "Saat melawan Haiti, bersama ribuan suporter Skotlandia dan keluarga di tribun—itu momen terbaik. Dua laga berikutnya berat, tapi kami bersaing. Kami menunjukkan karakter dan permainan bagus, hanya kurang kualitas di sepertiga akhir lapangan," ujarnya.

Clarke mengakui masalah itu sudah menjadi pekerjaan rumah selama tujuh tahun terakhir. "Saya harap penerus saya bisa menyelesaikannya," tambahnya.

Warisan untuk Skotlandia

Dengan penuh kebanggaan, Clarke menilai misinya mengubah mentalitas tim telah tercapai. "Kami akan menjadi bagian dari cerita rakyat Skotlandia. Orang akan membicarakan laga-laga ini hingga abad depan. Banyak yang bilang generasi inti ini sudah habis? Belum. Mereka semua masih bisa tampil di Euro 2028," pungkasnya.

Reporter: Saiful
Sumber: bbc.co.uk This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top