NAGAN RAYA — Kondisi saluran irigasi Ulee Jalan di Beutong Ateuh memaksa petani dari tiga gampong, yaitu Simpang Peut, Blang Muko, dan Blang Baro, bekerja ekstra keras. Mereka bergotong royong mengeruk tumpukan batu dan lumpur yang menyumbat pintu air, sebuah rutinitas yang seharusnya menjadi tugas pemeliharaan rutin instansi terkait.
Razali Jala, Hob Keujrun Kabupaten Nagan Raya, menyebut persoalan ini berulang setiap tahun. Menurutnya, petani selalu berada dalam posisi sulit karena harus memastikan sendiri aliran air sampai ke lahan garapan sebelum memulai penanaman.
“Petani sangat membutuhkan kepastian pasokan air. Hampir setiap musim turun ke sawah, masyarakat harus melakukan pembersihan secara swadaya agar air mengalir ke lahan pertanian,” ujarnya kepada NOA.co.id, Minggu (30/8/2026).
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Nagan Raya, Marzuki, S.E., menjelaskan bahwa situasi musim kemarau membuat debit air sangat kecil. Kondisi itu diperparah dengan sedimentasi di sepanjang saluran sehingga distribusi air menjadi tidak efisien.
“Alhamdulillah, para petani begitu semangat dan berinisiatif membersihkan saluran irigasi. Kondisi musim kemarau membuat debit air sangat kecil, ditambah pendangkalan saluran semakin memperparah keadaan,” jelas Marzuki.
Menurutnya, inisiatif warga ini patut dihargai, tetapi pemerintah tidak bisa terus membebankan pekerjaan pemeliharaan infrastruktur kepada petani secara mandiri. Ia menilai, tanpa intervensi alat berat, upaya manual ini hanya memberikan solusi sementara.
Marzuki berharap Balai Wilayah Sungai (BWS) dan instansi pengairan terkait segera merespons kondisi di lapangan. Pengerukan menggunakan alat berat dinilai menjadi satu-satunya cara efektif untuk memulihkan kapasitas tampung saluran Ulee Jalan.
“Kami sangat berharap perhatian serius dari pihak terkait. Pembersihan dengan alat berat diperlukan agar kebutuhan air petani dapat terpenuhi secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Ia menegaskan, penanganan menyeluruh sangat dibutuhkan khususnya untuk kawasan persawahan di Kecamatan Kuala dan Suka Makmue. Jika tidak segera ditangani, ancaman gagal tanam di musim kedua ini akan membayangi produktivitas padi daerah tersebut.
Gotong royong yang dilakukan para petani Ulee Jalan menjadi pengingat bahwa infrastruktur pertanian adalah urat nadi ketahanan pangan. Saluran yang bersih menentukan apakah ribuan hektare sawah akan menerima air atau justru mengering di tengah musim kemarau.
Aksi ini sekaligus menjadi kritik diam-diam atas minimnya pemeliharaan berkala fasilitas irigasi di Aceh. Saat petani harus menguras saluran dengan tangan kosong, sudah saatnya pemerintah daerah dan pemerintah pusat berbenah memastikan sistem irigasi berfungsi optimal sebelum musim tanam dimulai.