BANDA ACEH — Penataan direksi PT PEMA berlangsung lewat keputusan pemegang saham pengendali. Riza masuk ke jajaran direksi bersama Lukman Age, sementara Faisal Ilyas naik ke kursi Direktur Utama sejak 10 Agustus 2026. Perombakan ini disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan perusahaan sekaligus mendorong pengembangan bisnis PEMA ke depan.
Bagi PEMA, sosok Riza membawa kombinasi yang jarang ada di jajaran badan usaha milik daerah. Ia bukan hanya dikenal di lingkaran politik Aceh, tetapi juga punya rekam jejak kerja di sejumlah lembaga internasional dan perusahaan terbuka.
Riza pernah menjadi anggota Komite Manajemen Risiko di PT Semen Baturaja Tbk pada periode 2025–2026. Pengalaman itu memberinya persinggungan langsung dengan pengelolaan risiko perusahaan, bidang yang menentukan dalam pengambilan keputusan bisnis dan tata kelola korporasi.
Di sektor internasional, ia tercatat sebagai konsultan evaluasi untuk sejumlah organisasi. Di antaranya International Organization for Migration (IOM), United Nations Development Programme (UNDP), UN Women, United Nations Environment Programme (UNEP), Save the Children, serta Japanese Red Cross.
Pengalaman penelitian dan kajian juga ia jalani bersama lembaga maupun institusi akademik. Antara lain International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), Ritsumeikan University di Jepang, Konrad Adenauer Stiftung (KAS) di Singapura pada 2021–2023, serta Universiti Malaya di Kuala Lumpur pada 2019–2020.
Riza pernah bekerja sebagai staf senior bidang monitoring dan evaluasi untuk American Red Cross dan British Red Cross. Penugasan itu berada dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascatsunami.
Dari situ ia mendapat perspektif soal pelaksanaan program, pengawasan, evaluasi, serta koordinasi lintas lembaga dalam situasi pemulihan pascabencana. Pengalaman serupa juga ia bawa ke sejumlah negara, antara lain Australia, Jepang, Jerman, Malaysia, Mesir, Arab Saudi, dan Singapura.
Sebelum itu, Riza menjadi asisten pribadi Direktur Eksekutif Delta Express Freight Forwarding di Kairo, Mesir. Ia juga pernah menjadi penerjemah bahasa Arab–Indonesia dalam ajang Cairo International Fair.
Bekal akademik Riza ditempuh di tiga benua. Ia menyelesaikan sarjana di Universitas Al-Azhar, Mesir, pada bidang Studi Islam dan Bahasa Arab. Gelar magister diraih dalam bidang Kajian Asia Tenggara di University of Passau, Jerman.
Gelar doktor di bidang Kajian Asia Tenggara ia peroleh dari University of New South Wales (UNSW), Australia. Riza juga menguasai enam bahasa: Arab, Inggris, Jerman, Aceh, Indonesia, dan Melayu.
Kemampuan itu berpotensi mendukung komunikasi dan penjajakan kerja sama dengan mitra dari beragam latar belakang negara maupun institusi. Aceh sendiri memiliki kepentingan strategis dalam membangun kemitraan dan menangkap peluang investasi di sektor energi serta bidang ekonomi lainnya.
Nama Riza bukan hal baru dalam dinamika politik Aceh. Pada Pilkada 2024, ia tercatat sebagai Dewan Pakar Badan Pemenangan Aceh pasangan Muzakir Manaf–Fadhlullah atau Mualem–Dek Fadh. Ia juga dikenal memiliki kedekatan dengan Ustaz Abdul Somad (UAS).
Kehadiran investor internasional, termasuk Mubadala Energy yang berkegiatan di lepas pantai Aceh, memperlihatkan pentingnya kapasitas komunikasi, pemahaman lintas budaya, dan kemampuan membangun kemitraan dalam ekosistem investasi daerah.
Meski demikian, pengalaman dan jejaring profesional tetap perlu diterjemahkan ke dalam langkah bisnis yang konkret. Bagi direktur yang membidangi komersial, tantangannya bukan sekadar membuka komunikasi dengan mitra, tetapi memastikan kerja sama itu berujung pada pendapatan dan pengembangan usaha PEMA.