LHOKSEUMAWE — Sebanyak 67 peserta hadir dalam kegiatan Next Gen Energi Aceh yang digelar di VIP Room Royal Coffee Space, Lhokseumawe. Peserta datang dari berbagai unsur: tokoh daerah, organisasi kepemudaan, mahasiswa, pemuda, dan perwakilan industri.
Forum tersebut dirangkai dengan peringatan Milad ke-7 DEM Aceh. Organisasi ini berdiri pada 20 Oktober 2019 dan sejak itu aktif mendorong keterlibatan generasi muda di sektor energi.
Presiden DEM Aceh Faizar Rianda menyebut milad bukan sekadar penanda bertambahnya usia organisasi. Menurutnya, momentum itu dipakai untuk meninjau kembali kontribusi dan komitmen DEM Aceh dalam menyiapkan generasi muda.
"Sejak berdiri pada 20 Oktober 2019, DEM Aceh telah melalui berbagai proses dan pengalaman. Mulai dari seminar energi, Sekolah Kepemudaan Energi, pengabdian lingkungan, berbagai perlombaan, hingga ruang diskusi dan kolaborasi bersama para pemangku kepentingan. Semua itu menjadi bagian dari upaya kami membuka ruang belajar dan memperluas keterlibatan anak muda dalam sektor energi," ujar Faizar.
Ia menilai potensi sumber daya energi Aceh tergolong besar. Namun potensi itu perlu diimbangi kesiapan manusia agar manfaatnya sampai ke masyarakat luas.
Faizar menegaskan energi tidak bisa direduksi jadi persoalan minyak, gas bumi, atau besarnya sumber daya alam. Menurutnya, ada dimensi manusia, pengetahuan, dan keberanian yang sama pentingnya.
"Bagi DEM Aceh, energi bukan hanya tentang minyak dan gas bumi atau besarnya potensi sumber daya alam yang kita miliki. Energi juga berbicara tentang manusia, pengetahuan, keberanian, dan masa depan. Sebesar apa pun potensi energi Aceh, semuanya membutuhkan sumber daya manusia yang siap mengelola, mengembangkan, dan memastikan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat," katanya.
Semangat Geutanyoe Muda, Geutanyoe Energi diusung dalam kegiatan itu. DEM Aceh mendorong mahasiswa dan pemuda mengambil peran strategis, bukan sekadar menonton perkembangan sektor energi di daerahnya sendiri.
Anggota DPD RI asal Aceh, Haji Sudirman Haji Uma, M.Sos., menekankan pentingnya optimalisasi pengelolaan sumber daya alam Aceh. Ia menyoroti perlunya peningkatan kualitas SDM, penciptaan lapangan kerja, serta sinergi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.
Founder DEM Aceh, Royhan, menyoroti peran strategis pemuda dalam pengembangan sektor energi. Peningkatan kapasitas, kompetensi, dan pengetahuan dinilai penting untuk menyiapkan tenaga profesional, inovator, dan pelaku usaha.
Dalam sesi diskusi, Rahmad Baihaqi dari MPI Kota Lhokseumawe membahas kemudahan investasi, kepastian usaha, dan kesiapan tenaga kerja lokal. Ia yang berlatar belakang kontraktor mengangkat pengalaman PT Arun pada masa jayanya sebagai pembelajaran soal peran industri energi dalam menggerakkan ekonomi dan membuka lapangan kerja di Lhokseumawe.
Koordinator Harian DEM Aceh, Mulyadi, S.Pd., menekankan pentingnya menjaga soliditas organisasi dan keberlanjutan gerakan pemuda energi. Menurutnya, perjalanan tujuh tahun DEM Aceh lahir dari kebersamaan, kerja kolektif, dan dukungan berbagai pihak.
"Perjalanan tujuh tahun ini bukan hanya tentang apa yang telah kita lakukan, tetapi juga tentang apa yang akan kita teruskan," kata Mulyadi.
Ia berharap momentum milad menjadi pengingat bagi seluruh pengurus untuk menjaga semangat pengabdian, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan program yang berdampak nyata bagi mahasiswa serta masyarakat.
Faizar juga menyampaikan apresiasi kepada para founder, mentor, senior, pengurus, perusahaan sektor energi, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), akademisi, dan mitra yang mendukung perjalanan DEM Aceh. Menurutnya, organisasi diukur bukan dari banyaknya kegiatan, melainkan dari besarnya manfaat dan jumlah generasi muda yang berhasil disiapkan.