SINGKIL — Kepala TK ABA Pasar Singkil Puspa Hijriati menyebut bantuan revitalisasi membuat kegiatan belajar mengajar tidak lagi terkendala fasilitas dasar. Sebelumnya, toilet sekolah kerap tidak bisa dipakai begitu air banjir naik sedikit saja.
“Alhamdulillah sekarang sudah ada tambahan ruang kegiatan belajar lengkap dengan mobiler baru dari program revitalisasi ini. Termasuk fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) yang bersih dan nyaman untuk anak-anak,” ucap Puspa saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (24/10).
Anggaran revitalisasi reguler satuan pendidikan senilai Rp471.570.000 yang cair pada 2025 dipakai membangun satu Ruang Kegiatan Belajar berukuran 7 x 6 meter. Ruangan itu dilengkapi papan tulis, kursi, meja, dan lemari.
Dana yang sama juga membiayai satu ruang UKS berukuran 3 x 8 meter serta tiga unit MCK. Pada 2026, TK ABA kembali menerima anggaran lanjutan revitalisasi banjir Rp103 juta untuk membangun arena bermain seluas sekitar 200 meter persegi.
Tambahan ruang belajar membuat pengelola sekolah bisa membagi kelas. Satu ruangan kini dapat menampung dua rombongan belajar dengan total sekitar 30 murid.
TK ABA Pasar Singkil saat ini menampung 110 murid TK dan 20 anak Kelompok Bermain, dengan lima ruang kelas dan tujuh rombel. Sebelum revitalisasi, jumlah murid sebanyak itu harus berbagi fasilitas yang terbatas.
“Dengan tambahan arena lengkap bermain ini, mendidik anak menjadi lebih mudah. Dan masyarakat juga menjadi lebih tertarik mendaftarkan anaknya untuk masuk di TK ini,” tambah Puspa.
Meski begitu, sejumlah kebutuhan belum terpenuhi. Ayunan di arena bermain belum tersedia, dan TK ABA Pasar Singkil tidak mendapat papan interaktif digital (PID) seperti beberapa sekolah lain.
“Kami berharap bisa mendapat fasilitas belajar PID tersebut,” ucapnya.
TK ABA Pasar Singkil sebelumnya sempat menumpang di lahan milik Kementerian Hukum dan HAM, bekas penjara. Lahan itu kini resmi menjadi milik sekolah setelah proses panjang yang dijalankan lembaga Muhammadiyah dan dihibahkan ke pengurus sekolah.
Riwayat banjir juga meninggalkan bekas. Setelah banjir 27 November 2025, sebagian sarana belajar rusak terendam, mulai dari meja, kursi, lemari, hingga buku pelajaran anak-anak.
Pekerjaan revitalisasi melibatkan tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Pembelian material dan bahan bangunan juga diarahkan ke pedagang lokal.
“Pembelian bahan bangunan di pedagang lokal di Singkil. Namun jika bahan tidak tersedia kita pesan juga dari Rimo,” ucap Puspa.
Kebutuhan kue dan kopi untuk para pekerja, menurut Puspa, dipesan dari warung-warung di sekitar sekolah. Manfaat program revitalisasi pun tidak berhenti di halaman sekolah.
Puspa berharap program revitalisasi berlanjut karena masih banyak sekolah lain di Aceh Singkil yang menghadapi keterbatasan sarana serupa.