ACEH — Hasil pemodelan BMKG menunjukkan episentrum gempa berada di darat pada koordinat 1,13 Lintang Selatan dan 120,23 Bujur Timur, sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu. Kedalaman hiposentrum hanya 10 kilometer, masuk kategori gempa dangkal. “Tidak ada potensi tsunami, karena pusatnya berada di darat,” kata Hendrik, Pengamat BMKG Stasiun Geofisika Kelas 1 Palu.
Mekanisme Normal Fault dan Sebaran Guncangan
Analisis mekanisme sumber gempa menunjukkan pola pergerakan turun atau normal fault. Karakteristik ini lazim ditemukan pada sesar aktif di wilayah Sulawesi Tengah. Guncangan terkuat tercatat pada skala VI–VII MMI di Kota Palu, disusul V–VI MMI di Kabupaten Sigi.
Wilayah lain yang turut merasakan getaran antara lain Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, dan Pasangkayu dengan intensitas III MMI. Getaran lebih lemah, skala II–III MMI, terdeteksi hingga Pinrang, Parepare, Pohuwato, Boalemo, Gorontalo Utara, Gorontalo, dan Luwu Utara.
Video Viral Air Laut Surut: BMKG Beri Klarifikasi
Di tengah kekhawatiran warga, beredar video yang memperlihatkan air laut di Teluk Palu surut. BMKG menegaskan fenomena itu tidak ada kaitannya dengan potensi tsunami. “Masyarakat jangan panik, dan tidak terjebak isu yang tidak bertanggung jawab,” ujar Hendrik.
Pihaknya mengimbau warga tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Hingga Selasa sore, BMKG belum mencatat adanya gempa susulan signifikan.
Imbauan Warga: Hindari Bangunan Retak
BMKG juga meminta masyarakat waspada terhadap bangunan yang mungkin mengalami keretakan akibat guncangan. Getaran skala VI–VII MMI di Palu berpotensi menyebabkan kerusakan ringan pada konstruksi bangunan yang tidak kokoh.
Warga diimbau memeriksa kondisi rumah dan tempat tinggal masing-masing. Jika ditemukan retakan struktural, segera mengungsi ke tempat aman sementara. Informasi resmi hanya bersumber dari BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.