Pencarian

Aceh Dibidik Investor Migas Global, BPMA Dorong Eksplorasi Baru Demi Cari Cadangan Pengganti Ladang Tua

Selasa, 23 Juni 2026 • 13:40:01 WIB
Aceh Dibidik Investor Migas Global, BPMA Dorong Eksplorasi Baru Demi Cari Cadangan Pengganti Ladang Tua
BPMA intensif mencari investor global untuk eksplorasi migas baru di Aceh guna menggantikan ladang tua.

BANDA ACEH — Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) tengah mengintensifkan perburuan investor global untuk menggarap potensi minyak dan gas bumi di provinsi ujung barat Indonesia itu. Langkah ini menjadi krusial karena sejumlah wilayah kerja migas yang sudah berproduksi sejak era 1970-an, seperti Blok B dan Blok Pase, kini memasuki fase penurunan alamiah atau mature field.

Kepala BPMA Nasri Djalal mengatakan, cadangan di wilayah kerja eksisting semakin mengecil sehingga diperlukan terobosan untuk menemukan sumber cadangan baru. “Karena seperti saya sampaikan bahwa tingkat cadangan di Aceh ini sudah mengecil yang sudah ada, sehingga saya harus mencari alternatif baru dengan mencari investor-investor baru, mencoba mengembangkan wilayah-wilayah kerja baru,” ujarnya dalam wawancara Meet the Leaders Warta Ekonomi, Selasa (23/6/2026).

Warisan Ladang Arun dan Potensi Laut Andaman

Nasri menegaskan, potensi migas Aceh tidak bisa dilepaskan dari sejarah kejayaan ladang gas Arun di Aceh Utara. Ladang itu diketahui memiliki cadangan sekitar 16 triliun kaki kubik (TCF) dan pernah menjadikan Indonesia sebagai anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). “Potensi Aceh untuk minyak dan gas ini dari dulu sangat luar biasa,” kata Nasri.

Selain Arun, temuan terbaru di Laut Andaman yang diperkirakan memiliki cadangan sekitar 10 TCF turut memperkuat prospek hulu migas Aceh. Aceh juga berada di antara dua cekungan besar: North Sumatra Basin di bagian utara yang membentang dari Pidie hingga Aceh Timur, dan Sibolga Basin di kawasan barat dan selatan. Di kawasan tersebut, Conrad Asia Energy memegang dua wilayah kerja lepas pantai, yakni Offshore North West Aceh dan Offshore South West Aceh.

Strategi BPMA: Dari Pameran Energi hingga Lobi ke Perusahaan Jepang

Untuk menarik minat calon mitra, BPMA aktif membawa potensi migas Aceh ke forum energi nasional dan internasional. Nasri menyebut forum seperti Indonesia Petroleum Association (IPA), ADIPEC di Dubai, hingga forum energi di Singapura menjadi ruang penting untuk mempertemukan pemilik wilayah kerja dengan pemilik modal.

Upaya itu mulai membuahkan hasil. BPMA berhasil meyakinkan dua perusahaan Jepang, JAPEX dan JOGMEC, untuk berinvestasi di Aceh. Proses lobi berlangsung sekitar tujuh bulan sejak 2023 hingga akhirnya kedua perusahaan itu datang ke kantor BPMA, mengirimkan surat keberminatan, dan mempresentasikan proposal di Tim Wilayah Kerja Migas.

“Jepang ini, perusahaan JAPEX dan JOGMEC ini murni merupakan lobi kita di tahun 2023. Dan alhamdulillah cuma tujuh bulan kita meyakinkan perusahaan Jepang ini sampai akhirnya mereka mau berinvestasi,” ujar Nasri.

Wilayah Kerja Jiwa Masih Tahap Joint Study

Selain investor Jepang, BPMA juga tengah memproses Wilayah Kerja Jiwa yang melibatkan PT Agra Energi dan Maccon Energy asal Bahrain. Nasri menjelaskan, wilayah kerja itu masih berada pada tahap joint study sehingga potensi atau kapasitas cadangannya belum dapat dipastikan. “Nah kalau ini kapasitasnya kita belum tahu karena ini masih tahap joint study. Mereka melakukan studi untuk wilayah kerja tersebut untuk mencari berapa cadangannya,” jelasnya.

Joint study menjadi tahapan penting sebelum sebuah wilayah kerja masuk proses pelelangan. Setelah studi selesai, perusahaan akan memiliki data awal mengenai potensi cadangan dan wilayah prospektif yang kemudian menjadi dasar pengajuan investasi lebih lanjut.

Bagikan
Sumber: wartaekonomi.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks