ACEH TIMUR — Wahyuni, warga Desa Julok, masih ingat bagaimana air bersih yang dulu mengalir dari sumur mendadak hilang dalam hitungan hari. “Masalah terbesar yang kami hadapi adalah air bersih. Banyak sumur warga yang tercemar dan airnya tidak bisa digunakan,” katanya.
Banjir bandang yang melanda pada akhir November 2025 itu tidak hanya merusak rumah dan harta benda. Lumpur dan limbah dari hulu merembes ke sumber-sumber air warga di delapan kecamatan—Julok, Simpang Ulim, Pante Bidari, Nurussalam, Birem Bayeun, Peunaron, Idi Tunong, dan Peureulak. Air sumur yang tadinya jernih berubah keruh dan tidak layak pakai.
Enam Bulan Pascabencana, Sumur Belum Pulih Sepenuhnya
Memasuki musim kemarau tahun ini, persoalan air bersih tidak lagi sekadar musiman. “Kalau rumah yang kotor masih bisa dibersihkan sedikit demi sedikit, tetapi kalau tidak ada air bersih tentu sangat sulit,” tambah Wahyuni. Ia menceritakan bahwa selain air bersih, listrik padam dan sinyal telepon hilang selama berhari-hari setelah bencana, membuat warga kesulitan berkomunikasi dan mendapat informasi.
Data Pos Komando Bencana Aceh Timur mencatat 57 orang meninggal, 845 luka-luka, dan 1.815 warga sakit pascabencana. Kerusakan fisik meliputi 5.684 rumah rusak berat, 4.422 rusak sedang, dan 6.979 rusak ringan. Desa Lokop menjadi salah satu wilayah paling parah, dengan hampir 80 persen wilayahnya hancur akibat material kayu, lumpur, dan bebatuan dari hulu.
1,13 Juta Liter Air Bersih Didistribusikan, Jalan Terisolasi Mulai Terbuka
Medco E&P Malaka bersama Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) mengerahkan empat unit mobil tangki berkapasitas 5.000 liter untuk mendistribusikan 1,13 juta liter air bersih. Distribusi yang dimulai sejak 3 Desember 2025 ini menjangkau 56 desa di lima kecamatan: Julok, Simpang Ulim, Pante Bidari, Nurussalam, dan Peureulak.
Setiap pagi, warga keluar membawa jeriken dan ember untuk mengantre pasokan air. Selain itu, Medco E&P Malaka juga mengerahkan 12 ekskavator, empat bulldozer, tiga backhoe loader, enam grader, dan dua dump truck untuk membuka kembali akses jalan yang terputus di 31 desa yang sempat terisolasi. RSUD Sultan Abdul Aziz Peureulak yang ikut terdampak banjir juga dibersihkan agar pelayanan kesehatan bisa berjalan normal.
Bupati: Bantuan Swasta Percepat Pemulihan Daerah
Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky menilai kontribusi sektor swasta selama masa tanggap darurat hingga pemulihan membantu mempercepat proses penanganan. “Bantuan tersebut membuka kembali jalan-jalan yang terisolasi menjadi simbol harapan bahwa pemulihan dapat dilakukan bersama,” ujarnya.
Bagi masyarakat Aceh Timur, pengalaman enam bulan terakhir membawa kesadaran baru. Akses terhadap air bersih yang aman dan berkelanjutan kini dipahami sebagai kebutuhan pokok yang harus dijaga—tidak hanya saat bencana, melainkan sepanjang tahun. “Apalagi sekarang mulai masuk musim kemarau,” kata Wahyuni.