BANDA ACEH — Drama Piala Dunia 2026 grup G antara Mesir dan Iran menyisakan satu pelajaran berharga bagi pencinta sepak bola di Aceh: aturan offside tidak sesederhana yang terlihat. Gol Iran pada menit ke-90+4 yang dianulir VAR membuat publik bertanya-tanya, termasuk warga Banda Aceh yang menyaksikan laga di warung kopi hingga layar kaca rumah masing-masing.
Kronologi Gol Dianulir: Saat Kiper Mesir Tinggalkan Gawang
Pertandingan berjalan sengit sejak menit awal. Mesir unggul lebih dulu lewat Mahmoud Saber pada menit kelima, sebelum Iran menyamakan kedudukan melalui Ramin Rezaeian. Babak kedua berlangsung alot, dan drama puncak terjadi di masa injury time.
Shoja Khalilzadeh mencetak gol dari bola muntah di depan gawang. Namun, wasit Polandia, Szymon Marciniak, berkomunikasi dengan ruang VAR pada menit ke-90+5. Hasilnya: gol dianulir karena offside.
Keputusan ini memicu protes keras pemain Iran. Banyak penonton di stadion dan pemirsa di rumah bingung karena masih ada satu pemain Mesir, Hamza Abdelkarim, yang berada di antara Khalilzadeh dan gawang.
Mengapa Posisi Shoja Khalilzadeh Tetap Dianggap Offside?
Kuncinya ada pada posisi kiper Mesir, Oufa Shobeir. Saat kemelut terjadi, Shobeir sudah maju meninggalkan sarangnya untuk menghalau bola. Dalam aturan IFAB Law 11, seorang pemain dinyatakan offside jika posisinya lebih dekat ke garis gawang lawan daripada bola dan pemain lawan kedua terakhir (second-last opponent).
Dalam kondisi normal, dua pemain terakhir itu adalah kiper dan satu bek. Namun, karena kiper sudah berada di depan, garis batas offside otomatis berpindah. Patokannya kini hanya menyisakan satu pemain: bek Hamza Abdelkarim. Saat umpan dikirimkan, Khalilzadeh hanya memiliki satu pemain lawan di depannya, bukan dua. Artinya, ia sudah berada di posisi offside meskipun ada Abdelkarim di atasnya.
Keputusan wasit Marciniak pun 100 persen sesuai regulasi, meski terlihat kontroversial di mata awam.
Dampak Keputusan: Mimpi Iran ke Babak 32 Besar Tertunda
Anulir gol ini membuat Iran gagal mengunci kemenangan 2-1. Pertandingan berakhir imbang 1-1. Tim asuhan pelatih Iran kini harus menunggu hasil tiga laga lain di grup G untuk menentukan nasib mereka: lolos ke babak 32 besar atau pulang lebih awal.
Bagi publik sepak bola di Banda Aceh, momen ini menjadi pengingat bahwa teknologi VAR tidak sekadar alat bantu, tetapi juga menuntut pemahaman mendalam terhadap detail aturan yang jarang muncul dalam pertandingan biasa. (*)