ACEH — Clarke mengumumkan pengunduran dirinya kepada para pemain di hotel Charlotte, Sabtu (29/7) malam waktu setempat. Pengumuman itu disampaikan tepat setelah Skotlandia dipastikan tersingkir dari Piala Dunia Wanita 2023. Skuad asuhannya gagal melaju dari Grup E yang dihuni Brasil, Maroko, dan Haiti.
Kontrak Baru Tak Mengubah Rencana
Keputusan ini mengejutkan. Sebulan sebelumnya, Clarke menandatangani perpanjangan kontrak berdurasi empat tahun—yang seharusnya mencakup Euro 2028 dan Piala Dunia 2030. "Menandatangani kontrak sebelum Piala Dunia adalah upaya memberi kenyamanan bagi pemain bahwa perjalanan bisa berlanjut," ujar Clarke dalam wawancara eksklusif yang dirilis Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) di YouTube.
"Saya selalu punya bayangan: jika tidak lolos dari grup—yang sudah kami coba di tiga turnamen—maka itu saat yang tepat untuk mundur. Sebaliknya, jika kami mendapat satu poin tambahan dan lolos, saya mungkin bertahan untuk turnamen berikutnya."
Kotak Centang yang Terisi Semua
Bagi Clarke, keputusan ini terasa mudah. Ia telah mencapai seluruh target pribadinya. "Saya ingin pergi ke turnamen besar bersama negara. Itu saya lakukan di Euro 2020 yang terpengaruh Covid, lalu Euro 2024 di Jerman luar biasa. Ambisi seumur hidup saya adalah tampil di Piala Dunia. Saya sudah melakukannya. Jadi, ini waktu yang tepat untuk lengser," kata Clarke.
Ia menyampaikan langsung kepada para pemain pukul 19.00 waktu setempat. Tujuh atau delapan pemain telah bersamanya sejak awal masa kepelatihan. "Saya harus memberi tahu kapten Andy Robertson sebelum rapat, karena dia pasti ingin menyampaikan sesuatu kepada saya," kenang Clarke.
Kritik dan Kebanggaan yang Berdampingan
Meski menuai kritik tajam setelah kalah beruntun dari Maroko dan Brasil, Clarke tetap menyebut pengalaman Piala Dunia ini "brilian". "Saat melawan Haiti, bersama ribuan suporter Skotlandia dan keluarga di tribun—itu momen terbaik. Dua laga berikutnya berat, tapi kami bersaing. Kami menunjukkan karakter dan permainan bagus, hanya kurang kualitas di sepertiga akhir lapangan," ujarnya.
Clarke mengakui masalah itu sudah menjadi pekerjaan rumah selama tujuh tahun terakhir. "Saya harap penerus saya bisa menyelesaikannya," tambahnya.
Warisan untuk Skotlandia
Dengan penuh kebanggaan, Clarke menilai misinya mengubah mentalitas tim telah tercapai. "Kami akan menjadi bagian dari cerita rakyat Skotlandia. Orang akan membicarakan laga-laga ini hingga abad depan. Banyak yang bilang generasi inti ini sudah habis? Belum. Mereka semua masih bisa tampil di Euro 2028," pungkasnya.