ACEH — Kejuaraan internasional berkuda yang berlangsung di Jakarta itu resmi ditutup akhir pekan lalu. Sebanyak 13 negara ambil bagian dalam ajang bergengsi di bawah naungan Asian Equestrian Federation (AEF) dan Federation Equestre Internationale (FEI) ini.
Bagi Indonesia, gelaran ini punya arti spesial. Untuk pertama kalinya, Tanah Air dipercaya menjadi tuan rumah kejuaraan CSI1 Borrowed Horse Competition. Tak hanya sukses sebagai penyelenggara, prestasi di atas arena juga ikut mengharumkan nama bangsa.
Brandon Toa Juara, Aisyah Hakim Raih Perunggu
Pada hari terakhir kompetisi, Brandon Toa tampil gemilang di babak jump-off nomor 115cm. Ia berhasil mengungguli peserta lain dan memastikan medali emas untuk Indonesia.
Sukses Brandon diikuti Aisyah Hakim yang merebut medali perunggu di nomor yang sama. Posisi runner-up ditempati rider Thailand, Akkara Konglapamnuay. Sementara Ramdani Tri Haryanto melengkapi daftar enam besar dengan finis di urutan keenam.
Dominasi Indonesia kian terlihat di nomor CS-12 INTime FEI CSIU25-A Jumping Competition 125 cm. Seluruh posisi puncak hingga urutan ketujuh dikuasai rider tanah air. Maritza Aliyah Wardana keluar sebagai juara, disusul Teuku Muhammad Nur Fahri dan Lalu Yuda Pratama Riady Alwi.
Penyelenggaraan Terbesar dalam Sejarah AEF
Ketua Pelaksana AEF/MANTENA Cup Jakarta 2026 sekaligus Presiden Equinara Horse Sports, Adinda Yuanita, mengaku bersyukur seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Ia menekankan bahwa menjadi tuan rumah kejuaraan FEI bukan perkara mudah.
"Ini merupakan sesuatu yang sangat baru bagi Indonesia karena belum pernah kita laksanakan sebelumnya," ujar Adinda dalam keterangan resmi, Minggu (28/6).
Panitia harus memenuhi standar internasional ketat, mulai dari penyediaan kuda, akomodasi, transportasi, hingga keselamatan atlet dan ofisial. Hasilnya, AEF memberikan apresiasi karena penyelenggaraan CSI1 Borrowed Horse di Jakarta dinobatkan sebagai yang terbesar dalam sejarah AEF.
Modal Berharga Menuju Asian Games 2026
Adinda menilai hasil yang diraih para rider Indonesia menjadi modal positif menuju Asian Games 2026. Kemampuan bersaing dengan 12 negara lain dianggap sebagai motivasi besar bagi pembinaan atlet ke depan.
"Terlihat bahwa atlet-atlet Indonesia mampu bersaing dengan 12 negara lainnya. Ini tentu menjadi motivasi besar bagi pembinaan atlet ke depan," tuturnya.
Sport Tourism dan Rencana Agenda Tahunan
Penyelenggaraan AEF/MANTENA Cup juga memberikan dampak positif bagi sektor sport tourism. Sejumlah atlet dan ofisial dari berbagai negara memilih memperpanjang kunjungan untuk menikmati destinasi wisata di Indonesia.
Ke depannya, panitia berencana menjadikan AEF/MANTENA Cup sebagai agenda tahunan. "Mungkin kita akan melaksanakan di 2027 dan 2028 kembali karena kita memang memerlukan pengalaman dan kita tidak bisa bertanding hanya di antara kita saja," ujar Adinda.