BANDA ACEH — Fenomena keterasingan generasi muda terhadap budayanya sendiri menjadi perhatian serius dalam sebuah diskusi yang digelar di kanal YouTube Sagoe TV. Dua tokoh pendidikan, Eka Januar, M.Soc.Sc., dan Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi Aswad, memaparkan kekhawatiran mereka terhadap dampak derasnya arus digitalisasi di Aceh.
Menurut Eka Januar, generasi Z dan milenial di Aceh saat ini hidup dalam dilema identitas. Di satu sisi mereka bangga menyebut diri sebagai orang Aceh, namun di sisi lain esensi nilai keacehan mulai pudar dalam keseharian.
“Anak muda kita hari ini mengalami dilema identitas. Mereka hafal tren TikTok, paham budaya viral global, tetapi semakin asing dengan warisan budayanya sendiri seperti hikayat, seudati, dan bahasa Aceh,” ujar Eka dalam diskusi tersebut.
Bahasa Aceh Mulai Ditinggalkan di Rumah dan Ruang Publik
Salah satu indikator paling nyata dari krisis ini adalah menurunnya penggunaan bahasa Aceh. Eka menyebut banyak anak muda mulai merasa canggung menggunakan bahasa daerah, baik di lingkungan keluarga maupun di ruang publik.
Ia menambahkan, algoritma media sosial perlahan mengambil alih peran orang tua dan sekolah dalam membentuk karakter generasi penerus. Jika situasi ini tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan lahir generasi yang tumbuh tanpa akar budaya yang kuat.
Revitalisasi Meunasah hingga Penguatan Peran Keluarga Jadi Solusi
Menanggapi kondisi tersebut, Musriadi Aswad menegaskan bahwa penguatan identitas Aceh tidak bisa hanya dilakukan melalui seruan moral. Dibutuhkan langkah strategis dan konkret yang melibatkan banyak pihak.
“Ketahanan lokal harus diperkuat. Anak-anak muda kita harus dibekali dengan identitas yang kokoh agar tidak mudah larut dalam arus global yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai Aceh,” kata Musriadi.
Beberapa langkah yang ia rekomendasikan antara lain revitalisasi fungsi meunasah dan masjid sebagai pusat pendidikan karakter, optimalisasi peran gampong dalam pembinaan sosial, serta pembiasaan penggunaan bahasa Aceh di lingkungan rumah. Pemerintah dan pemangku kepentingan juga didorong untuk masuk ke ruang digital dan membangun narasi edukatif sebagai tandingan konten global.
Anak Muda Aceh Harus Jadi Agen Perubahan, Bukan Sekadar Konsumen Budaya Global
Kedua narasumber sepakat bahwa potensi besar yang dimiliki generasi muda Aceh tidak boleh habis hanya untuk menjadi konsumen budaya global. Sebaliknya, mereka harus didorong menjadi agen perubahan yang mampu memadukan modernitas dengan akar budaya lokal.
Menjaga identitas bukan berarti menolak kemajuan. Di tengah dunia yang semakin tanpa batas, langkah yang paling penting adalah memastikan generasi muda tetap mengenali siapa dirinya, dari mana asalnya, dan nilai-nilai apa yang harus dijaga demi masa depan Tanah Rencong.