BANDA ACEH — Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak langsung turun ke lapangan menyambut kepulangan kloter terakhir jemaah haji asal Aceh di Banda Aceh, Selasa (30/6/2026). Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa buah tangan seperti air zamzam, kurma, atau sajadah tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kemabruran yang dibawa pulang.
"Oleh-Oleh Terbaik Bukan Kurma atau Zamzam"
"Oleh-oleh terbaik dari Tanah Suci bukanlah air zamzam, kurma, sajadah, ataupun cendera mata," ujar Dahnil di hadapan para jemaah. "Tetapi kemabruran yang tercermin melalui akhlak yang semakin baik, istiqamah dalam beribadah, serta meningkatnya kepedulian kepada sesama."
Pernyataan itu langsung mendapat respons hangat dari jemaah yang baru tiba. Dahnil juga menyempatkan diri berdialog langsung, menanyakan pengalaman mereka selama menjalani rangkaian ibadah di Madinah dan Makkah, termasuk soal pelayanan yang diterima.
Kualitas Konsumsi "Mantap" dan Candaan Wamenhaj
Suasana penyambutan berlangsung cair. Saat Wamenhaj bertanya tentang kualitas konsumsi selama di Tanah Suci, para jemaah kompak menjawab "mantap". Jawaban serempak itu disambut candaan Dahnil yang membuat suasana semakin hangat dan penuh tawa.
Di sela-sela dialog, Dahnil juga menyampaikan permohonan maaf apabila masih ada kekurangan dalam pelayanan haji tahun ini. Ia menegaskan bahwa seluruh masukan dari jemaah akan menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas penyelenggaraan pada musim haji mendatang.
Doa dan Harapan untuk Jemaah Aceh
Menutup sambutannya, Wamenhaj mendoakan agar Allah SWT menerima seluruh ibadah jemaah dan menjadikannya haji yang mabrur serta hajjah yang mabrurah. Ia berharap para jemaah senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, dan kesempatan untuk kembali mengunjungi Tanah Suci menunaikan ibadah umrah.
Bagi Dahnil, ibadah haji bukanlah titik akhir, melainkan titik awal untuk melahirkan pribadi yang lebih baik dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. "Jaga nilai-nilai kemabruran itu dalam kehidupan sehari-hari," pesannya.