Pencarian

140 Gempa Guncang Aceh Sepanjang Juni 2026, 13 Kali Dirasakan Warga dan 132 di Antaranya Dangkal

Rabu, 01 Juli 2026 • 17:09:32 WIB
140 Gempa Guncang Aceh Sepanjang Juni 2026, 13 Kali Dirasakan Warga dan 132 di Antaranya Dangkal
Gempa bumi mengguncang Aceh sebanyak 140 kali sepanjang Juni 2026 dengan mayoritas berintensitas kecil.

BANDA ACEH — Aktivitas seismik di Aceh menunjukkan tren tinggi sepanjang bulan lalu. Data resmi BMKG Stasiun Geofisika Aceh Besar yang dirilis melalui akun Instagram @stageof.acehbesar.bmkg mencatat total 140 kali gempa bumi terjadi dalam periode 1 hingga 30 Juni 2026.

Dari ratusan kejadian tersebut, hanya sebagian kecil yang dirasakan oleh warga. Tepatnya, 13 gempa dilaporkan menimbulkan guncangan yang terasa di permukaan. Meski demikian, tidak ada gempa berkekuatan signifikan yang memicu kerusakan.

Mayoritas Gempa Bermagnitudo Kecil dan Dangkal

Berdasarkan data magnitudo, gempa-gempa tersebut didominasi oleh getaran kecil. Sebanyak 110 gempa memiliki kekuatan di bawah magnitudo 3, sementara 30 gempa lainnya berada pada rentang magnitudo 3 hingga kurang dari 5. Sepanjang Juni 2026, tidak tercatat satu pun gempa dengan magnitudo 5 atau lebih di wilayah provinsi ujung barat Indonesia ini.

Dari sisi kedalaman, hampir seluruh gempa tergolong dangkal. Sebanyak 132 kejadian terjadi pada kedalaman kurang dari 60 kilometer di bawah permukaan bumi. Hanya delapan gempa yang berada pada kedalaman menengah, yakni 60 hingga 300 kilometer. Tidak ada gempa dalam (lebih dari 300 km) yang tercatat.

Puncak Aktivitas pada 27 Juni, Sebaran di Banyak Wilayah

Episentrum gempa tersebar di sejumlah titik, baik di daratan maupun perairan Aceh. Kawasan yang menjadi pusat gempa meliputi Pidie, Bener Meriah, Aceh Selatan, Simeulue, hingga perairan barat Aceh. Aktivitas paling padat terjadi pada 27 Juni dengan 11 kali gempa dalam sehari. Dua hari lainnya, yakni 7 Juni dan 18 Juni, masing-masing mencatat 10 kejadian gempa.

BMKG: Ini Wajar, Tapi Warga Harus Tetap Waspada

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Aceh Besar, Andi Azhar Rusdin, menegaskan bahwa tingginya frekuensi gempa di Aceh merupakan hal yang lumrah. Hal ini disebabkan oleh posisi geografis provinsi tersebut yang berada di atas pertemuan lempeng tektonik aktif.

“Aceh berada pada pertemuan lempeng aktif, sehingga aktivitas gempa merupakan hal yang biasa terjadi. Namun masyarakat tetap kami imbau untuk waspada dan tidak panik,” kata Andi dalam pernyataan resminya.

BMKG juga mengingatkan warga agar tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya. Masyarakat diminta untuk selalu merujuk pada informasi resmi dari BMKG. Selain itu, pemahaman tentang langkah-langkah penyelamatan saat gempa bumi dinilai penting untuk mengurangi risiko, terutama jika sewaktu-waktu terjadi gempa berkekuatan lebih besar.

Bagikan
Sumber: masakini.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks