ACEH — Kementerian ESDM masih menghitung kebutuhan tambahan kuota Pertalite dan menargetkan evaluasi rampung akhir Oktober 2026, setelah konsumsi harian melonjak hingga 85.589 kiloliter pada Juli 2026. Lonjakan dipicu migrasi pengguna Pertamax ke BBM bersubsidi seusai harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026.
Jakarta — Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung memastikan penghitungan tambahan kuota Pertalite belum tuntas. Pemerintah membutuhkan angka pasti karena lonjakan konsumsi berlangsung sejak pertengahan tahun dan belum sepenuhnya surut.
"Jadi, lagi dilakukan evaluasi sampai dengan akhir bulan ini," kata Yuliot, dikutip Sabtu (24/10/2026). Ia tidak menyebut rentang besaran tambahan yang sedang dipertimbangkan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman juga belum bisa memastikan apakah tambahan kuota akan menyentuh 10 persen dari alokasi 2026 yang sebesar 29,27 juta kiloliter. Menurut dia, prioritas penghitungan saat ini justru pada solar.
"Masih dihitung ya, sekarang yang kita proses untuk tambahan yang solar dulu ya," ujar Laode.
Pemicu: Harga Pertamax Naik Rp 3.950 per Liter
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menerangkan, akar persoalan ada pada perpindahan konsumen BBM RON 92 seperti Pertamax ke Pertalite. Ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz melambungkan harga minyak internasional, lalu merembet ke harga jual di dalam negeri.
Kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026 menjadi titik balik. Konsumen yang sebelumnya setia pada BBM non-subsidi berbondong-bondong beralih ke Pertalite, sehingga pemerintah harus menghitung ulang anggaran dan kuota penyaluran.
"Ada kenaikan (kuota). Karena ada kenaikan, pasti akan terjadi penambahan kuota. Masih kami kaji," kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Ia menyebut evaluasi menyeluruh akan difinalisasi pada akhir Oktober. "Untuk Pertalite nanti coba saya akan melakukan exercise di akhir bulan ini, ya. Memang ada terjadi peningkatan," ucap Bahlil.
Distribusi Harian Naik 9.794 KL
Data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menunjukkan pergeseran yang tajam. Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyebut rata-rata distribusi harian Pertalite semula 75.795 KL per hari.
Pada 10 Juni 2026, penyaluran menyentuh 82.760 KL per hari atau naik 9,19 persen—bertambah 6.965 KL per hari dibanding rata-rata awal. Sebulan kemudian, Juli 2026, konsumsi memuncak di 85.589 KL per hari dengan kenaikan 12,92 persen atau tambahan 9.794 KL per hari.
Angka itu merupakan lonjakan tertinggi sepanjang periode pemantauan. Pada Agustus 2026 konsumsi melandai tipis ke 84.368 KL per hari, tetapi masih jauh di atas rata-rata penyaluran sebelum penyesuaian harga Pertamax.
Dampak ke Anggaran dan Pasokan
Bagi konsumen, tambahan kuota berarti pasokan Pertalite di SPBU tidak tersendat hingga akhir tahun. Bagi pemerintah, keputusan ini menyangkut ruang fiskal: setiap kiloliter tambahan menambah beban subsidi yang harus dialokasikan dalam APBN.
Kementerian ESDM belum memerinci sumber anggaran penambahan kuota. Yang jelas, arah kebijakan sudah ditegaskan Bahlil: penyesuaian kuota ditempuh demi menjaga ketercukupan pasokan nasional.
Sejumlah pengamat energi sebelumnya mengingatkan bahwa lonjakan konsumsi bersubsidi tanpa pengendalian berisiko memperlebar defisit anggaran subsidi. Opsi yang biasa dibahas mencakup pengetatan kriteria penerima hingga pembatasan volume pembelian per kendaraan.
Hingga akhir Oktober, angka final tambahan kuota Pertalite masih menunggu hasil penghitungan Kementerian ESDM. Bagi pengguna jalan, kepastian itu menentukan apakah antrean dan kelangkaan di sejumlah daerah akan mereda sebelum tutup tahun.