ACEH UTARA — Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnakeswan) Aceh Utara, Erwandi, menyebut bantuan berasal dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian dalam bentuk barang yang dibutuhkan di lapangan. Penyaluran dilakukan lewat dua jalur: peternak mengambil langsung di kantor dinas di Lhokseumawe, atau menerima melalui penyuluh peternakan di masing-masing kecamatan.
Bagi kelompok yang belum menerima, Erwandi menyatakan akan diusulkan pada gelombang penyaluran berikutnya.
Paket bantuan mencakup lima jenis kebutuhan ternak dengan volume masing-masing:
Mukhlisin, peternak dari Kecamatan Meurah Mulia, mengaku ternaknya terendam saat banjir 26 November 2025. Sebagian berhasil diselamatkan, tetapi kemudian jatuh sakit.
"Banyak ternak kami terendam saat banjir 26 November 2025 lalu. Sebagian berhasil diselamatkan, namun kemudian jatuh sakit. Tanpa obat dan pakan, kami takut kehilangan sisa ternak yang ada," ujar Mukhlisin saat menerima bantuan.
Kekhawatiran Mukhlisin mewakili ratusan peternak lain di Aceh Utara yang usahanya lumpuh setelah banjir bandang akhir November 2025.
Bantuan di Aceh Utara merupakan bagian dari penyaluran nasional Kementerian Pertanian sebanyak 249.917 dosis obat hewan ke tiga provinsi terdampak bencana. Rinciannya: Aceh 128.552 dosis, Sumatera Utara 77.024 dosis, dan Sumatera Barat 44.341 dosis.
Direktur Kesehatan Hewan Hendra Wibawa menegaskan posisi ternak bagi keluarga peternak. "Bagi peternak, ternak bukan sekadar hewan peliharaan, tetapi juga sumber penghidupan keluarga," kata Hendra.
Penyaluran di Aceh secara simbolis diserahkan pada 15 Oktober 2026 di Desa Lueng Manyo, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang.
Pemulihan sektor peternakan tertuang dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028. Dokumen ini disahkan melalui Keputusan Menko PMK Nomor 25 Tahun 2026 dan menempatkan pengembalian mata pencaharian warga sebagai prioritas utama.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera yang juga Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menyebut anggaran pemulihan mencapai Rp100,1 triliun untuk 11.520 kegiatan teridentifikasi. Sebanyak 33 kementerian dan lembaga tergabung dalam satgas, dengan 23 K/L sebagai pelaksana utama dan 10 K/L pendukung.
"Total semuanya adalah Rp100,1 triliun untuk 11.520 kegiatan yang sudah teridentifikasi. Nah, ini dibagi ada kementerian 23 K/L yang kementerian utama yang melakukan kegiatan dan ada sisanya 10 kementerian lembaga yang mendukung. Jadi total 33 kementerian/lembaga yang tergabung dalam satgas ini," jelas Tito.
Menko PMK Sugiono, yang juga Ketua Pengarah Satgas PRR, menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga. "Kita harus bergerak dengan langkah yang sama, terkoordinasi dengan baik, serta melaksanakan setiap upaya secara terukur agar hasil yang dicapai lebih optimal," katanya.
Bantuan diteruskan ke kelompok penerima manfaat dengan melibatkan penyuluh dan petugas kesehatan hewan. Cakupannya tidak berhenti di obat dan pakan: ada penyediaan bibit ternak, layanan kesehatan hewan, hingga pemulihan bangunan dan fasilitas pendukung.
Pendampingan khusus diarahkan bagi keluarga miskin dan kelompok rentan agar tidak tertinggal dalam proses pemulihan. Bagi Mukhlisin dan peternak lain di Aceh Utara, obat dan pakan menjadi titik awal menata kembali usaha yang tersisa.