NAGAN RAYA — Susi Pudjiastuti turun dari pintu pesawat dan langsung disambut pengalungan bunga oleh Bupati Nagan Raya TR Keumangan. Pendiri Susi Air itu datang bukan sekadar meresmikan penerbangan, tetapi menapaki kembali tanah yang menjadi titik nol perjalanan usahanya.
Rute yang dibuka menghubungkan Nagan Raya dengan Banda Aceh dan Medan setiap Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Frekuensi empat kali sepekan itu disebut memperpendek waktu tempuh warga yang selama ini bergantung pada jalur darat.
Dua Pesawat Perintis dan Ingatan 28 Desember 2004
Bagi Susi, Nagan Raya punya tempat khusus. Dua hari setelah gempa dan tsunami meluluhlantakkan Aceh pada 28 Desember 2004, ia terbang membawa bantuan kemanusiaan dengan dua unit pesawat perintis yang semula dibeli untuk usaha perikanan.
"Awal mula Susi Air lahir di Nagan Raya, Aceh. Karena itu, daerah ini memiliki sejarah tersendiri bagi perjalanan kami. Tanpa Nagan Raya, mungkin perjalanan Susi Air tidak akan seperti sekarang," kata Susi dengan mata berkaca.
Penerbangan kemanusiaan itulah yang kemudian berkembang menjadi maskapai perintis yang kini melayani sejumlah daerah terpencil. Kembalinya Susi Air ke Nagan Raya dibaca sebagai penutup lingkaran sejarah yang dimulai 22 tahun lalu.
Bupati: Akses Udara Terbuka, Investasi Masuk
Bupati TR Keumangan menyebut kehadiran Susi Air sebagai berkah bagi kabupaten hasil pemekaran Aceh Barat pada 2002 itu. Nagan Raya kini menaungi 10 kecamatan yang terus membenahi diri.
"Kehadiran Ibu Susi merupakan keberkahan dan kebanggaan bagi kami. Akses udara yang makin terbuka akan memudahkan mobilitas, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan membuka lebar peluang investasi," ujar TRK.
Penerbangan perintis dinilai memangkas biaya logistik dan waktu perjalanan pejabat maupun pelaku usaha. Dua faktor itu kerap menjadi penghambat utama pengembangan kawasan pesisir yang jauh dari ibu kota provinsi.
Bandara Cut Nyak Dhien Dikelola agar Penerbangan Berkelanjutan
Kepala Kantor UPBU Kelas II Cut Nyak Dhien, Fanani Zuhri, menegaskan pengelolaan bandara akan terus dioptimalkan. Tujuannya agar layanan penerbangan hemat waktu itu berjalan berkelanjutan dan berdampak langsung bagi kemajuan pesisir barat Aceh.
Bandara Cut Nyak Dhien sebelumnya sempat menjadi salah satu titik logistik utama saat penanganan bencana 2004. Kini perannya bergeser menjadi simpul konektivitas reguler bagi warga dan dunia usaha.
13.000 Warga Siap Bentangkan Merah Putih Sepanjang 24 Kilometer
Geliat pembangunan di Nagan Raya juga bersiap menyambut momen lain. Pada 11 November 2026, lebih dari 13.000 warga dijadwalkan berkumpul membentangkan Bendera Merah Putih sepanjang 24 kilometer.
Rute pembentangan membentang dari Bandara Cut Nyak Dhien hingga Masjid Giok Baitul A'la di Suka Makmue. Agenda itu disiapkan sebagai penanda kesiapan daerah menyambut tahapan pembangunan berikutnya.
Deru baling-baling Susi Air di landasan Cut Nyak Dhien kini tidak lagi mengangkut duka seperti 22 tahun silam. Yang diangkut adalah harapan baru tentang konektivitas, investasi, dan kemajuan Nagan Raya.